Fatahillah313, Jakarta - Perdebatan teologis dalam tubuh umat Islam bukanlah fenomena baru.
Sejak masa klasik hingga era modern, perbedaan pemahaman akidah kerap melahirkan diskursus panjang, kadang ilmiah, kadang polemis.
Dalam kajian bertajuk Studi Kritis tentang Trilogi Tauhid Wahabi, Habib Rizieq Syihab mengajak publik menelaah secara kritis konsep yang dikenal sebagai Trilogi Tauhid serta implikasi pemikiran yang berkembang di sekitarnya.
Artikel ini merangkum secara sistematis alur pemaparan beliau dalam Part 1, dengan pendekatan humanis, analitis, dan kontekstual.
Pengantar: Ketika Istilah Sama, Makna Bisa Berbeda
Akar Historis: Dari Najd ke Dunia Islam
Artikel ini merangkum secara sistematis alur pemaparan beliau dalam Part 1, dengan pendekatan humanis, analitis, dan kontekstual.
Pengantar: Ketika Istilah Sama, Makna Bisa Berbeda
Di permukaan, konsep Trilogi Tauhid, Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat, terlihat tidak bermasalah.
Ketiganya juga dikenal dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja).
Namun, menurut pemaparan kajian ini, persoalan muncul ketika istilah yang sama dipahami dengan pendekatan yang berbeda.
Namun, menurut pemaparan kajian ini, persoalan muncul ketika istilah yang sama dipahami dengan pendekatan yang berbeda.
Banyak kalangan menerima konsep tersebut karena merasa “ini juga ada dalam Aswaja”, tetapi setelah ditelusuri lebih dalam, arah teologisnya dinilai memiliki perbedaan signifikan.
Di sinilah pentingnya studi kritis:
Di sinilah pentingnya studi kritis:
Bukan sekadar melihat istilah, tetapi memahami kerangka pemikirannya.
Akar Historis: Dari Najd ke Dunia Islam
Gerakan yang sering disebut “Wahabi” merujuk pada pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama dari wilayah Najd pada abad ke-18.
Gerakan beliau membawa semangat pemurnian ajaran Islam dan kemudian berkembang luas melalui para pengikutnya hingga masa kini.
Dalam kajian ini dijelaskan bahwa:
Gerakan beliau membawa semangat pemurnian ajaran Islam dan kemudian berkembang luas melalui para pengikutnya hingga masa kini.
Dalam kajian ini dijelaskan bahwa:
- Sebagian pemikiran memiliki kesamaan dengan Aswaja
- Namun terdapat beberapa poin yang dianggap problematik oleh sebagian ulama Aswaja
- Perbedaan inilah yang memunculkan kategorisasi tersendiri di luar arus utama Aswaja
Secara intelektual, pemikiran tersebut juga banyak mengadopsi gagasan dari dua tokoh penting:
Keduanya dikenal sebagai ulama besar dalam tradisi Hanbali, dengan pendekatan teologis yang memiliki karakter khas.
Peta Label: Antara Klaim Internal dan Penilaian Eksternal
- Ibn Taymiyyah
- Ibn Qayyim al-Jawziyya
Keduanya dikenal sebagai ulama besar dalam tradisi Hanbali, dengan pendekatan teologis yang memiliki karakter khas.
Peta Label: Antara Klaim Internal dan Penilaian Eksternal
Salah satu fokus utama kajian ini adalah pemetaan label yang melekat pada kelompok yang mengikuti corak pemikiran tersebut. Label ini terbagi dua:
Label yang Diklaim Sendiri
- Klaim dari internal kelompok
- Sebutan dari kalangan luar (khususnya Aswaja)
Label yang Diklaim Sendiri
- Ahlul Hadits – menekankan kembali kepada dalil tekstual
- Atsari – merujuk pada pendekatan berbasis riwayat (atsar)
- Salafi – mengklaim mengikuti generasi salafus shalih
Kajian ini menegaskan bahwa secara historis, pengikut mazhab empat juga merupakan bagian dari tradisi salaf, meskipun tidak selalu menggunakan label tersebut.
Label dari Kalangan Luar
Label dari Kalangan Luar
Dalam diskursus Aswaja, muncul sejumlah label yang bersifat kritis, antara lain:
Kajian ini menekankan bahwa label-label tersebut lahir dari dinamika polemik teologis yang panjang di tengah umat.
Titik Sensitif: Isu Akidah dan Metode Pemahaman
- Nawasib (dinilai kurang proporsional terhadap Ahlul Bait)
- Takfiri (dianggap mudah mengkafirkan)
- Khawarij (dikaitkan dengan sikap keras terhadap sesama Muslim)
- Musyabbih/Mujassim (terkait pemahaman sifat-sifat Allah secara literal)
- Ghulat Sunni (dianggap melampaui batas dalam klaim kebenaran)
- Wahabi (penamaan berdasarkan tokoh rujukan)
Kajian ini menekankan bahwa label-label tersebut lahir dari dinamika polemik teologis yang panjang di tengah umat.
Titik Sensitif: Isu Akidah dan Metode Pemahaman
Beberapa isu yang menjadi titik perbedaan utama antara pendekatan Aswaja (khususnya Asy’ariyah–Maturidiyah) dan pendekatan yang dikritisi dalam kajian ini antara lain:
1. Takfir (Pengkafiran)
1. Takfir (Pengkafiran)
Sebagian kalangan menilai adanya kecenderungan mudah menyesatkan atau mengkafirkan kelompok lain, terutama terhadap tradisi teologi klasik Aswaja.
2. Pemahaman Sifat Allah
2. Pemahaman Sifat Allah
Perdebatan muncul pada metode memahami ayat-ayat sifat (seperti tangan, wajah, atau istiwa’).
- Pendekatan literal dengan prinsip tanpa menyerupakan
- Berhadapan dengan pendekatan tafwidh atau takwil dalam tradisi Asy’ariyah
3. Relasi Internal Umat
Kajian ini menyoroti pentingnya etika perbedaan agar tidak melahirkan fragmentasi yang lebih dalam di tubuh umat.
Kontroversi Penamaan: Mengapa Disebut “Wahabi”?
Kontroversi Penamaan: Mengapa Disebut “Wahabi”?
Sebagian pengikut menolak istilah “Wahabi” dengan alasan nama tokohnya adalah Muhammad, sehingga seharusnya “Muhammadi”.
Namun dalam kajian ini dijelaskan bahwa dalam sejarah Islam, penamaan mazhab tidak selalu diambil dari nama pribadi tokoh. Contohnya:
Dengan demikian, penggunaan istilah “Wahabi” dipandang sebagai identitas pembeda, bukan semata bentuk peyoratif.
Pendekatan Sikap: Tidak Semua Sama
Namun dalam kajian ini dijelaskan bahwa dalam sejarah Islam, penamaan mazhab tidak selalu diambil dari nama pribadi tokoh. Contohnya:
- Mazhab Maliki – dari Imam Malik
- Mazhab Hanbali – dari nama ayah (Ahmad bin Hanbal)
- Mazhab Syafi’i – dari nama leluhur
- Mazhab Hanafi – dari kunyah Abu Hanifah
Dengan demikian, penggunaan istilah “Wahabi” dipandang sebagai identitas pembeda, bukan semata bentuk peyoratif.
Pendekatan Sikap: Tidak Semua Sama
Menariknya, dalam kajian ini juga disampaikan pendekatan yang lebih sosial-pragmatis:
- Kelompok yang santun, dialogis, dan tidak mudah menyesatkan → disebut Salafi
- Kelompok yang eksklusif, keras, dan mudah mengkafirkan → disebut Wahabi
Artinya, penilaian tidak hanya berbasis doktrin, tetapi juga pada perilaku sosial-keagamaan.
Mayoritas dan Persepsi Global
Mayoritas dan Persepsi Global
Dalam perspektif kajian ini, lebih dari 80% umat Islam dunia berada dalam spektrum Asy’ariyah dan Maturidiyah.
Karena itu, persepsi mayoritas umat terhadap kelompok yang dianggap berbeda menjadi faktor penting dalam pembentukan citra dan label sosial.
Penutup: Polemik yang Membutuhkan Kedewasaan
Part 1 kajian ini menegaskan satu hal:
Perdebatan teologis adalah realitas yang tidak terhindarkan.
Namun, di tengah perbedaan:
- Kejujuran ilmiah
- Ketelitian historis
- Etika dialog
- Dan sikap saling menghormati
menjadi kunci agar diskursus tidak berubah menjadi konflik.
Kajian lanjutan diharapkan akan membedah lebih jauh aspek konseptual Trilogi Tauhid secara substansial.
BACA JUGA:
Kajian lanjutan diharapkan akan membedah lebih jauh aspek konseptual Trilogi Tauhid secara substansial.
BACA JUGA:
(as)
#TrilogiTauhid #KajianAkidah #HabibRizieq #Aswaja #SalafiWahabi #SejarahIslam #DiskursusIslam #TeologiIslam #KajianUmat #IslamKontemporer

