Fatahillah313, Jakarta - Perdebatan teologis dalam Islam bukanlah fenomena baru.
Sejak masa klasik, diskursus tentang sifat-sifat Allah, metode penafsiran, hingga batasan kemurnian tauhid telah melahirkan berbagai pendekatan keilmuan.
Dalam kajian lanjutan Studi Kritis tentang Trilogi Tauhid Wahabi, materi Pesantren Ramadhan Part 2 menyoroti titik krusial:
Perbedaan metodologi antara tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah (Asy’ari–Maturidi) dan pendekatan yang berkembang dalam arus Salafi–Wahabi.
Artikel ini merangkum kajian tersebut secara sistematis, dengan pendekatan humanis, analitis, dan kontekstual.
Prinsip Dasar: Mensucikan Allah dari Penyerupaan
Ahlus Sunnah wal Jamaah meletakkan satu fondasi utama dalam akidah:
Allah tidak serupa dengan makhluk (tanzih).
Karena itu, ayat-ayat yang secara lahiriah berpotensi menyerupakan Allah dengan makhluk, seperti kata yadullah (tangan Allah), tidak dipahami secara fisik.
Pendekatan yang digunakan ada dua:
- Tafwid Menyerahkan makna hakikatnya kepada Allah tanpa penafsiran detail.
- Ta’wil Menafsirkan secara majazi (kiasan) jika makna literal berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Contoh:
Yadullah → dimaknai sebagai kekuasaan atau kekuatan, sebagaimana dalam bahasa sehari-hari:
“urusan ada di tangan presiden.”
Pendekatan ini bertujuan menjaga kemurnian tauhid dari kemungkinan tajsim (menjasmanikan Allah) atau tasybih (menyerupakan dengan makhluk).
Titik Perbedaan dengan Pendekatan Wahabi Kajian ini menyoroti bahwa dalam perspektif yang dikritisi, kelompok Wahabi cenderung menggunakan metode:
Ithbat Menetapkan sifat Allah sebagaimana bunyi zahir teks, tanpa ta’wil, sambil tetap menegaskan bahwa hakikatnya tidak diketahui.
Perbedaan metodologi inilah yang kemudian memicu perdebatan panjang.
Dalam pandangan tradisi Asy’ari:
Perbedaan ini bersifat metodologis, namun dalam praktik sosial sering berkembang menjadi polemik identitas keagamaan.
Kontroversi: Klaim Siapa Ahlus Sunnah?
- Pendekatan literal berpotensi mengarah pada pemahaman antropomorfis.
- Sementara Wahabi menilai ta’wil sebagai penyimpangan dari manhaj salaf.
Perbedaan ini bersifat metodologis, namun dalam praktik sosial sering berkembang menjadi polemik identitas keagamaan.
Kontroversi: Klaim Siapa Ahlus Sunnah?
Materi kajian mengutip sejumlah pernyataan tokoh Salafi internasional seperti:
yang dalam karya mereka menolak pendekatan ta’wil dan mengkritik kalangan Asy’ari serta Sufi.
Di Indonesia, polemik serupa muncul melalui sejumlah buku dan ceramah yang menilai Asy’ari sebagai kelompok bid’ah atau menyimpang.
- Muhammad Nasiruddin al-Albani
- Abdul Aziz bin Baz
yang dalam karya mereka menolak pendekatan ta’wil dan mengkritik kalangan Asy’ari serta Sufi.
Di Indonesia, polemik serupa muncul melalui sejumlah buku dan ceramah yang menilai Asy’ari sebagai kelompok bid’ah atau menyimpang.
Padahal, secara historis:
Kajian ini menilai adanya paradoks:
- Mayoritas umat Islam dunia mengikuti akidah Asy’ari dan Maturidi.
- Tradisi ini juga menjadi arus utama dalam organisasi seperti Nahdlatul Ulama.
Kajian ini menilai adanya paradoks:
Sebagian kalangan yang ingin diakui sebagai Ahlus Sunnah, pada saat yang sama mengeluarkan mayoritas umat dari kategori tersebut.
Peta Akidah Ahlus Sunnah Global Dalam forum internasional di Grozny (2016), ulama dunia memetakan Ahlus Sunnah sebagai:
1. Mazhab Fikih
- Hanafi
- Maliki
- Syafi’i
- Hanbali
2. Mazhab Akidah
- Asy’ari
- Maturidi
Keduanya dikenal sebagai Ashab at-Tafwid wat-Ta’wil, tradisi yang menggabungkan kehati-hatian teologis dengan perlindungan akidah awam dari pemahaman literal yang berisiko.
Dimensi Sosial:
Ketika Perbedaan Menjadi Gesekan Kajian juga menyoroti fenomena di Indonesia:
Ceramah yang menyerang tokoh-tokoh ulama klasik seperti Al-Ghazali dan Jalaluddin as-Suyuti.
Namun menariknya, materi juga memberikan catatan berimbang terhadap figur seperti Khalid Basalamah, yang dinilai memiliki pendekatan dakwah normatif dan santun, meskipun terdapat perbedaan serius dalam isu tertentu.
Pesan penting dari bagian ini:
- Kritik terhadap amalan seperti tawassul, tabarruk, zikir berjamaah.
- Pernyataan yang memicu kegaduhan publik.
Ceramah yang menyerang tokoh-tokoh ulama klasik seperti Al-Ghazali dan Jalaluddin as-Suyuti.
Namun menariknya, materi juga memberikan catatan berimbang terhadap figur seperti Khalid Basalamah, yang dinilai memiliki pendekatan dakwah normatif dan santun, meskipun terdapat perbedaan serius dalam isu tertentu.
Pesan penting dari bagian ini:
Perbedaan akidah harus disikapi dengan ilmu dan adab, bukan dengan stigma dan provokasi.
Lima Konsep Penafsiran Sifat Allah Kajian merangkum lima pendekatan teologis:
- Tafwid – menyerahkan makna kepada Allah
- Ta’wil – memaknai secara majazi sesuai kaidah bahasa
- Ithbat – menetapkan makna zahir tanpa menyerupakan
- Tasybih – menyerupakan dengan makhluk (ditolak)
- Tajsim – menjasmanikan Allah (ditolak)
Ahlus Sunnah memilih dua yang pertama demi menjaga keseimbangan antara teks dan tanzih.
Catatan Kritis:
Akar Masalah Bukan Hanya Teologi Dari perspektif kajian ini, konflik bukan semata soal perbedaan dalil, tetapi juga:
Padahal sejarah Islam menunjukkan: - Klaim kebenaran eksklusif
- Budaya takfir dan pelabelan
- Minimnya literasi lintas mazhab
- Dakwah tanpa sensitivitas sosial
Perbedaan metodologi adalah keniscayaan, bukan alasan perpecahan.
Jalan Tengah yang Diperlukan
Perdebatan akidah akan selalu ada.
Namun tantangan terbesar umat hari ini bukan sekadar benar atau salah dalam metodologi, melainkan:
Studi ini mengingatkan:
- Menjaga persatuan di tengah perbedaan
- Mengedepankan adab sebelum debat
- Mengutamakan maslahat umat di atas identitas kelompok
Studi ini mengingatkan:
Tauhid bukan hanya soal konsep, tetapi juga tentang bagaimana menjaga kemuliaan Allah sekaligus menjaga kehormatan sesama Muslim.BACA:
(as)
#TrilogiTauhid #Aswaja #AsyariMaturidi #KajianAkidah #PesantrenRamadhan #StudiTauhid #DinamikaUmat #IslamIndonesia #LiterasiMazhab #AdabDalamIkhtilaf

