KONTROVERSI MEDIS & SENTILAN SISTEMIK: Habib Rizieq Syihab Buka-Bukaan Soal Alasan Tolak RS Polri Hingga Sebut Menkes "Urusan Dagang"

Fatahillah313, PETAMBURAN – Setelah sekian lama dinanti oleh ribuan jemaahnya, pengajian rutin malam Kamis di Masjid Jami Al-Islah, Petamburan, kembali berdenyut. 
Namun, bukan sekadar melepas rindu pasca-Idulfitri, kehadiran perdana Habib Rizieq Syihab (HRS) di mimbar setelah menjalani dua kali operasi besar justru langsung menghentak publik dengan serangkaian pernyataan tajam yang menguliti kebobrokan regulasi di tanah air.

Dari atas mimbar, tokoh sentral ini blak-blakan membongkar memori persidangannya yang dianggapnya "beler" dan penuh kriminalisasi, alasan ideologis di balik penolakan dirawat di Rumah Sakit Polri, hingga kritik keras terhadap arah kebijakan kesehatan nasional yang disebutnya kini telah bergeser dari pelayanan sosial menjadi murni bisnis komersial.


Sentilan Kenangan Sidang: "Duit-Duit Ane, Kenapa Lu yang Ribet?"

HRS membuka memorinya dengan nada satir saat mengenang masa-masa ia berurusan dengan meja hijau terkait perawatan kesehatannya di Rumah Sakit Ummi, Bogor, beberapa tahun silam. 
Ia menyindir logika jaksa penuntut umum dan hakim yang mempermasalahkan jarak geografis tempatnya berobat.
Dulu waktu saya disidang, lucu.
Saudara jaksa bilang, ‘Habib Rizieq kan tinggal di Jakarta, kenapa berobatnya di Bogor?
Lah, orang mau berobat ke mana kek, kenapa jadi lu yang ribet?
Sampai dihitung itu meja jaksa, dari Petamburan ke RS Ummi ada belasan rumah sakit dilewati.
Saya milih RS Ummi disalahin.
Apa ini negeri saudara?

ujar HRS di hadapan jemaah yang memadati masjid.

Ia menegaskan bahwa pilihan rumah sakit adalah hak mutlak pasien, terlebih ia membayar seluruh fasilitas perawatan dengan dana pribadi, tanpa membebani fasilitas negara seperti BPJS. 
Alasan utama memilih RS Ummi, jelas HRS, adalah asas kepercayaan (trust) dan kelengkapan rekam medis (medical record) yang sudah berjalan bertahun-tahun, sehingga penanganan medis tidak perlu dimulai dari nol.


Alasan Menolak RS Polri: Faktor "Trust" dan Risiko Keamanan

Ketajaman narasi HRS semakin memuncak saat menceritakan pengalamannya ketika ditahan di Mabes Polri. 
Saat kondisi fisiknya drop dan membutuhkan tindakan operasi, otoritas penahan mewajibkannya untuk dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati. 
Sebuah instruksi yang langsung ia tolak mentah-mentah.
Saya tolak.
Saya enggak mau.
Bukan soal dokternya bagus atau tidak,
tegasnya. 
Dengan gaya bahasanya yang lugas, HRS membeberkan benturan psikologis dan logika logika pertahanan dirinya saat itu.

Yang nangkap gue polisi, yang bunuh laskar gue polisi, yang nahan gua di sini polisi, yang ngobok-ngobok gua lagi dirawat di RS Ummi polisi. 
Sekarang berobat ke polisi? 
Dibunuh gua! 
Sama juga kita bunuh diri. 
Kalau disuntik mati, selesai. 
Kalau Anda tetapkan saya harus diobati di RS Polri, saya tolak. 
Gua enggak percaya,
cetusnya yang disambut pekikan takbir dari jemaah.

Bagi HRS, aspek psikologis berupa kepercayaan kepada dokter dan institusi medis adalah separuh dari kesembuhan. 
Atas dasar itulah, ia akhirnya memilih opsi moderat dengan menjalani operasi dan perawatan di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih sebelum akhirnya dikembalikan ke sel tahanan.


Kritik Keras Sistem Kesehatan: Soroti Menkes dan Komersialisasi Medis

Tidak hanya bicara soal lingkaran personalnya, HRS menggunakan momentum kembalinya ke mimbar untuk melayangkan kritik sistemik terhadap carut-marut tata kelola kesehatan di Indonesia. 
Secara khusus, ia menyoroti penunjukan figur Menteri Kesehatan yang bukan berasal dari latar belakang dunia medis, melainkan seorang bankir. 
Dampaknya, menurut HRS, orientasi rumah sakit kini bergeser drastis.
Menteri Kesehatannya enggak ngerti kedokteran, enggak ngerti medis.
Yang diangkat seorang bankir, ahli perbankan.
Akhirnya mikirnya gimana?
Dagang dengan rumah sakit!
Didagangin itu obat, alat, pelayanan,
kritik HRS dengan nada tinggi.

Ia membandingkan sistem era transisi ini dengan masa lalu, di mana prestasi seorang dokter diukur dari kualitas pelayanan masyarakat. 
Kalau sekarang enggak. 
Dokter dinilai bagus kalau dia mampu menghasilkan banyak duit buat rumah sakit. 
Kalau pasiennya banyak, duit banyak masuk, itu baru dokter punya nilai. 
Jadi sekarang serba bisnis di mana-mana. 
Ini yang jadi persoalan,
tambahnya.

Dampak dari regulasi yang dinilainya "amburadul" ini dirasakan langsung oleh masyarakat kelas bawah. 
HRS menunjuk antrean BPJS yang karut-marut hingga banyaknya warga miskin yang terlambat mendapatkan penanganan medis sebagai bukti nyata kegagalan sistemik tersebut, meskipun ia tetap memuji keahlian dan dedikasi para dokter serta perawat lokal yang dinilainya tidak kalah bersaing dengan luar negeri.


Seruan Sapu Bersih Medsos: "Gedek Sama HRS, Kami Tak Butuh!"

Di penghujung ceramahnya, HRS juga menyelipkan pesan kepada ekosistem digital jemaahnya. 
Ia meminta agar jemaah kembali memprioritaskan kehadiran fisik di masjid ketimbang hanya mengandalkan fasilitas live streaming yang dinilainya kerap mengurangi keberkahan dan memicu kemalasan generasi muda.

Lebih jauh, ia menyoroti fenomena sensor ketat yang dialaminya di platform media sosial arus utama di bawah naungan Meta (Facebook dan Instagram).
Yang namanya Meta itu, Facebook, Instagram, gedek banget sama Habib Rizieq.
Udah gedek banget.
Tapi saya bersyukur alhamdulillah, kita enggak butuh yang begitu-begitu.
Yang penting dakwah jalan terus.
Lu mau musuhin, masa bodo amat!
Yang penting kita dakwah jangan terlalu tergantung dengan medsos,
pungkasnya memotivasi jemaah untuk memperkuat konsolidasi langsung di lapangan.

Memasuki babak baru pengajian pasca-operasi, HRS mengumumkan akan mulai membedah kitab Safwatul Ahadith An-Nabawiyyah Ash-Syarifah karya ulama besar Maroko, As-Sayyid Abdul Qadir al-Kattani, sebuah kitab yang hanya merangkum hadis-hadis dengan validitas tingkat tinggi (sahih dan hasan). 
Langkah ini sekaligus menjadi penanda bahwa meski terus dikepung berbagai tekanan regulasi dan sensor digital, gerilya dakwah dari Petamburan dipastikan tetap berjalan tanpa rem.
Metadata Pendukung Artikel


(as)
#HabibRizieq #CeramahHRS #Petamburan #SistemKesehatan #RSIslam #UpdateBerita #PolitikKesehatan