Fatahillah313, Jakarta - Di tengah menguatnya arus liberalisasi pemikiran dan wacana deradikalisasi yang kerap memicu silang tafsir di ruang publik, Majelis Markaz Syariah (MS) Petamburan mengambil langkah strategis dengan menggelar Seminar Ilmiah Nasional bertajuk
Deliberalisasi dan Deradikalisasi Melalui Aswajaisasi
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 15 Rajab 1447 H / 4 Januari 2026 M, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, bertempat di Majelis Markaz Syariah Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Seminar ini dirancang sebagai forum ilmiah yang serius namun inklusif, dengan tujuan mempertemukan gagasan, metodologi, dan perspektif keilmuan dalam merespons tantangan ideologis yang dihadapi umat Islam Indonesia hari ini.
Seminar ini dirancang sebagai forum ilmiah yang serius namun inklusif, dengan tujuan mempertemukan gagasan, metodologi, dan perspektif keilmuan dalam merespons tantangan ideologis yang dihadapi umat Islam Indonesia hari ini.
Aswajaisasi, sebagai penguatan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, ditempatkan bukan sekadar sebagai identitas, melainkan sebagai kerangka epistemologis, teologis, dan sosial yang relevan menjawab problem kontemporer.
Deradikalisasi Tanpa Kehilangan Akar
Deradikalisasi Tanpa Kehilangan Akar
Keilmuan Isu deradikalisasi kerap dipahami secara simplistik, bahkan tidak jarang dipersepsikan sebagai upaya penjinakan agama.
Di sisi lain, liberalisasi pemikiran agama sering tampil atas nama kebebasan, namun berpotensi mengikis fondasi keilmuan Islam itu sendiri.
Melalui seminar ini, MS Syariah Petamburan menegaskan posisi Aswaja sebagai jalan tengah, tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri, yang berpijak pada sanad keilmuan, tradisi ulama, dan keseimbangan antara teks dan konteks.
Panitia menegaskan bahwa forum ini tidak dimaksudkan sebagai ajang polemik, melainkan sebagai ruang dialog ilmiah yang berangkat dari tradisi akademik dan adab perbedaan.
Panitia menegaskan bahwa forum ini tidak dimaksudkan sebagai ajang polemik, melainkan sebagai ruang dialog ilmiah yang berangkat dari tradisi akademik dan adab perbedaan.
Dengan pendekatan tersebut, deradikalisasi dipahami bukan sebagai penghapusan militansi iman, tetapi sebagai penjernihan cara pandang, sementara deliberalisasi dimaknai sebagai upaya menjaga agama dari relativisme nilai yang berlebihan.
Dihadiri Tokoh Nasional dan Akademisi Terkemuka
Dihadiri Tokoh Nasional dan Akademisi Terkemuka
Seminar ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan akademisi dengan reputasi keilmuan yang kuat.
Di antaranya:
Diskusi akan dipandu oleh Dr. Muhammad Hanif bin Abdurrahman Alatas, Lc., M.Pd., sebagai moderator, memastikan dialog berjalan sistematis, tajam, dan tetap dalam koridor akademik.
Prolog dan Epilog oleh Habib Rizieq Syihab
- Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun, SH., MA., Guru Besar Sosiologi Agama, yang akan mengulas dimensi sosial dan dampak ideologi terhadap struktur umat.
- Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, yang dikenal luas sebagai pemikir pendidikan Islam dan kritik epistemologi Barat.
- Dr. Adnin Armas, MA., Peneliti INSISTS, yang akan membedah liberalisme dan deradikalisasi dari sudut pandang pemikiran Islam kontemporer.
Diskusi akan dipandu oleh Dr. Muhammad Hanif bin Abdurrahman Alatas, Lc., M.Pd., sebagai moderator, memastikan dialog berjalan sistematis, tajam, dan tetap dalam koridor akademik.
Prolog dan Epilog oleh Habib Rizieq Syihab
Menjadi perhatian khusus, Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc., MA., Ph.D, selaku pendiri dan pembina Yayasan Markaz Syariah, dijadwalkan menyampaikan prolog dan epilog seminar.
Kehadiran beliau diharapkan memberikan kerangka pemikiran ideologis dan penegasan posisi Aswaja dalam menghadapi tantangan globalisasi pemikiran, liberalisme agama, serta kebijakan deradikalisasi yang kerap menimbulkan kegelisahan di tengah umat.
Prolog akan mengantar peserta pada peta besar persoalan, sementara epilog menjadi peneguhan arah dan kesimpulan strategis, agar wacana yang dibahas tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi memiliki implikasi praksis bagi kehidupan keumatan.
Terbuka untuk Umum dan Disiarkan Daring
Prolog akan mengantar peserta pada peta besar persoalan, sementara epilog menjadi peneguhan arah dan kesimpulan strategis, agar wacana yang dibahas tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi memiliki implikasi praksis bagi kehidupan keumatan.
Terbuka untuk Umum dan Disiarkan Daring
Seminar ini terbuka untuk umum, baik kalangan akademisi, santri, mahasiswa, aktivis dakwah, maupun masyarakat luas yang ingin memahami isu ini secara jernih dan berimbang.
Selain kehadiran langsung, kegiatan juga dapat diikuti secara daring melalui siaran langsung YouTube Islamic Brotherhood Television (IBTV), memperluas jangkauan dakwah dan diskursus ilmiah ke seluruh penjuru tanah air.
MS Syariah Petamburan berharap seminar ini menjadi kontribusi nyata dalam menjaga moderasi, keilmuan, dan persatuan umat, dengan menempatkan Aswaja sebagai fondasi bersama, bukan alat eksklusivitas, melainkan jembatan dialog dan solusi peradaban.
MS Syariah Petamburan berharap seminar ini menjadi kontribusi nyata dalam menjaga moderasi, keilmuan, dan persatuan umat, dengan menempatkan Aswaja sebagai fondasi bersama, bukan alat eksklusivitas, melainkan jembatan dialog dan solusi peradaban.
(as)
#Aswajaisasi #Deliberalisasi #Deradikalisasi #SeminarIlmiahNasional #MarkazSyariah #Aswaja #KeilmuanIslam #PersatuanUmat


