Mulianya Seorang Pendidik: Ketika Ilmu Tak Lagi Dijadikan Jalan Kemuliaan


Fatahillah313, Bekasi - Di tengah gempuran era digital, kita dihadapkan pada pertanyaan sederhana namun menampar realitas:
Mengapa anak muda sekarang lebih ingin menjadi influencer daripada guru?
Jawabannya pun sederhana, karena gaji berbicara lebih lantang daripada idealisme.

Seorang guru yang mengajar selama 25 tahun belum tentu bisa membeli rumah layak, sementara seorang influencer TikTok bisa meraup pendapatan setara gaji tahunan guru hanya dari satu unggahan iklan. 
Ironi zaman modern yang memperlihatkan bahwa ilmu tidak lagi dinilai sebagai aset ekonomi, padahal ia adalah fondasi kemajuan bangsa.

Akibatnya, minat kepada ilmu pun surut. Jurusan pendidikan sepi peminat, penelitian ilmiah kekurangan sponsor, dan profesi guru dipandang sekadar “pengabdian” yang tak perlu diberi penghargaan besar. 
Banyak anak muda enggan menjadi tenaga pendidik, tak tertarik pada dunia riset, apalagi bercita-cita menjadi akademisi atau penulis. 
Semua berlarian ke dunia hiburan, meninggalkan dunia pendidikan yang sesungguhnya menjadi pilar peradaban.

Padahal, sejarah telah membuktikan:
Majunya suatu negara ditentukan oleh kualitas pendidiknya dan penghargaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.


Kejayaan Masa Lalu: Ketika Negara Mengangkat Derajat Guru

dan Ilmuwan Di masa keemasan Islam, para pemimpin paham satu prinsip: kemiskinan membunuh semangat ilmiah.

Karena itu negara mengangkat kesejahteraan guru, ilmuwan, pustakawan, hingga penerjemah, bukan sebagai pengeluaran, tetapi sebagai investasi peradaban.

1. Madrasah Nizāmiyyah – Baghdad Guru menerima 20–30 dinar per bulan, setara ± Rp 100 juta dalam nilai emas modern. Mereka diberi rumah, makanan, dan akses perpustakaan. Guru bukan profesi biasa, melainkan simbol martabat umat.

2. Bayt al-Ḥikmah – Perpustakaan dan Pusat Sains Dunia Para penyalin dan penerjemah dibayar fantastis. Satu karya besar dapat dihargai hingga 200 dinar emas, kira-kira Rp 1 miliar hari ini.

Bahkan, beberapa khalifah menetapkan sistem pengupahan berdasar berat hasil terjemahan: Menerjemahkan buku seberat 500 gram = dibayar 500 gram emas. Ilmu dihargai setara emas — betul-betul secara harfiah.

3. Masa Khalifah Umar bin Khattab r.a. 
Muadzdzin diberi gaji dua dirham per hari, setara harga dua ekor ayam, dibiayai negara melalui Bayt al-Māl. Cukup untuk hidup layak, tanpa perlu mengejar pekerjaan sampingan.


Jika Ilmuwan Hidup Susah, Anak Muda Akan Meninggalkan Ilmu 

Sistem kejayaan Islam membuktikan bahwa:
    • Menjadi guru adalah kehormatan.
    • Menjadi peneliti adalah karier prestisius.
    • Menjaga perpustakaan adalah bagian dari jihad peradaban.

Karena itu ribuan murid berdatangan dari Andalusia hingga Samarkand. Perpustakaan megah berdiri di berbagai kota. Ilmu berkembang, dan dunia Islam menjadi mercusuar peradaban global.
Dari sistem inilah lahir raksasa-raksasa ilmu: 
Al-Khawarizmi, Ibn Sina, Al-Biruni, Al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan ribuan lainnya.


Nama mereka harum sepanjang zaman. Sementara nama-nama artis hiburan dari era itu? Tak ada yang tertinggal dalam sejarah.


Pelajaran Besar untuk Zaman Sekarang 

Kita sering mengampanyekan “budaya baca” atau “minat ilmiah”, tetapi melupakan akar persoalan:

Ilmuwan dan guru tidak dihargai dalam aspek ekonomi.

Bagaimana mungkin lahir ulama besar dari lingkungan yang mengidolakan sensasi digital? Bagaimana mungkin muncul ilmuwan hebat dari sistem yang menelantarkan pendidiknya?

Kejayaan Islam menunjukan bahwa menaikkan kesejahteraan guru bukan kebijakan ekonomi, melainkan strategi membangun peradaban. Ilmu harus menjadi cita-cita, bukan sekadar hobby yang tak menghasilkan.

Hari ini, realitasnya berbalik: Guru dibayar sedikit untuk mengajarkan moral, Influencer dibayar banyak untuk menghancurkan moral.

Sebuah ironi yang harus dikoreksi bila kita ingin masa depan bangsa tetap berdiri di atas pondasi ilmu.
Penutup Simak Puisi dari UAF/Ustadz Abu Fayadh

Judul Puisinya : " Puisi Teruntuk Guruku"

Puisi Teruntuk Guruku

Guru,

Engkau adalah pahlawan

Pahlawan tanpa tanda jasa

Yang tidak pernah lelah memberikan ilmumu

Terhadap murid-muridmu

Engkau selalu berjuang

Untuk mendidik kami

Mencerdaskan anak bangsa

Demi mencapai prestasi yang gemilang

Guru,

Tugas engkau sungguhlah mulia

Kami sungguh membutuhkan engkau

Karena tanpa engkau

Kami bukanlah apa-apa

Guru,

Terima kasih atas ilmu yang engkau berikan

Kami berjanji

Akan menjalankan amanat engkau

Untuk menjadi penerus bangsa dan agama

Yang unggul dalam segala bidang

Yang berpendidikan dan agamis/beriman

Terima kasih guru atas

Ilmu yang kau berikan

Semoga Tuhan membalas segala jasa-jasamu

Yang tidak begitu terhingga.

Semoga bermanfaat, Barokallohu fiikum

Selamat Hari Guru

Bekasi-Jawa Barat, 
25 November 2025,

Alfaqir Ilalloh Azza wa Jalla,


Al Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd, Gr حفظه اللّٰه تعالى
(UAF/Ustadz Abu Fayadh)

Seorang Hamba Yang Mengharap Ridho RabbNya

{Aktivis Pendidikan dan Kemanusiaan Domisili di Bekasi, Dewan Pertimbangan JAJAKA/Jawara Jaga Kampung}


(UAF)
#HariGuru #Pendidikan #GuruIndonesia #IlmuAdalahCahaya #SejarahIslam #BaytAlHikmah #Nizāmiyyah #UAF #AbuFayadh #PeradabanIlmu