Dr. Habib Hanif Alatas Kecam Keras Penistaan Kalimat Tauhid di Indosiar


Fatahillah313, Jakarta - Kontroversi kembali mencuat di ruang publik setelah cuplikan sebuah acara hiburan di salah satu stasiun televisi nasional, Indosiar, beredar luas di media sosial. 
Tayangan tersebut memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, terutama setelah munculnya adegan joget dengan gerakan tidak pantas yang diiringi lantunan kalimat suci Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah.

Salah satu suara paling vokal datang dari Dr. Habib Hanif Alatas, yang menyampaikan pernyataan tegas dalam sebuah forum keagamaan. 
Beliau menilai bahwa kejadian tersebut bukan hanya ketidakhati-hatian produksi, tetapi juga telah melukai rasa keagamaan umat Islam dan melanggar nilai-nilai penghormatan terhadap kalimat tauhid.


Reaksi Habib Hanif: “Ini Penghinaan Terhadap Kalimat Tauhid”


Dalam penyampaiannya, Habib Hanif mengungkapkan bahwa ia sempat mengira informasi tersebut hoaks. 
Namun setelah dicek melalui penelusuran langsung terhadap tayangan live di platform video, ia memastikan bahwa kejadian itu benar adanya.
Ada adegan joget-joget dengan gerakan yang tidak layak, pakaian terbuka, dan backsound-nya kalimat Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah. Ini penghinaan terhadap kalimat tauhid,
tegasnya di hadapan jamaah.

Beliau menekankan bahwa kalimat tauhid adalah kalimat suci, pembeda antara benar dan salah, serta kunci pembuka surga, sehingga tidak pantas dijadikan latar musik untuk aksi hiburan yang dianggap tidak sesuai nilai-nilai kesopanan.

Dalam forum tersebut, Habib Hanif meminta agar pihak penyelenggara maupun para pelaku yang terlibat diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku. 
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana terkandung dalam Pancasila.


Berikut isi kecaman Dr. Habib Hanif :

Semalam saya dikagetkan dan dikejutkan oleh sebuah tayangan di salah satu stasiun televisi di Indonesia, Indosiar. 
Dalam acara tersebut terlihat adegan joget-joget dengan gerakan yang tidak layak, sementara backsound yang digunakan adalah lantunan Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah.

Kalimat ini adalah pembeda antara benar dan salah, jalan yang lurus dan jalan yang bengkok, Saudara. 
Mengapa kalimat suci itu dijadikan pengiring tarian seperti itu?
Seakan-akan tidak ada musik lain. 
Padahal menggunakan musik dalam keadaan berpakaian terbuka saja sudah haram, apalagi bila diiringi kalimat tauhid. 
Ini benar-benar tidak pantas.

Saya menegaskan bahwa baik penyelenggara maupun siapa pun yang terlibat dalam tayangan tersebut wajib diproses hukum. 
Semalam saya menerima kiriman video itu dan langsung meminta salah satu aktivis media untuk mengeceknya, khawatir jika itu hanyalah hoaks. 
Namun setelah dicek langsung melalui tayangan live, ternyata benar adanya.

Dalam adegan tersebut tampak para artis berkumpul di atas panggung, berjoget dengan gerakan yang tidak layak. 
Ketika musik dicek, terdengar jelas lantunan Lailahaillallah, Lailahaillallah, Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah. 
Gerakan muter-muter yang tidak pantas itu dilakukan sambil memakai pakaian terbuka, sementara kalimat tauhid dijadikan latar. Ini jelas bentuk penghinaan.

Kalimat tauhid adalah kalimat suci. Itu adalah miftāhul jannah, kunci surga. 
Tanpa kalimat tauhid, sehebat apa pun amal seseorang, ia tidak akan masuk surga. 
Kalimat tauhid adalah pembeda antara hak dan batil, antara benar dan salah, Saudara. 
Karena itu tidak boleh sembarangan digunakan.

Mengapa dijadikan backsound untuk tarian dengan pakaian terbuka dan gerakan tidak pantas? 
Ini benar-benar tidak bisa diterima. 
Maka saya meminta dengan tegas agar ini diproses hukum. 
Setuju? 
Setuju....

Bila tidak diproses hukum, siapkah kita seret mereka ke ranah hukum? 
Siap....
Siap seret mereka ke penjara? 
Takbir!

Kita tidak ingin ada lagi penghinaan seperti ini. 
Tayangan dalam acara dangdut tersebut jelas mengandung unsur penghinaan terhadap kalimat tauhid: 
backsound kalimat suci, gerakan joget tidak pantas, pakaian terbuka, serta gaya-gaya yang terkesan mengejek. Itu semua tidak dapat dibenarkan.

Ingat, negeri kita adalah negeri Pancasila. Sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, itulah tauhid, Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah. 
Maka penghinaan terhadap kalimat tauhid bukan hanya pelecehan terhadap Islam, tetapi juga terhadap Indonesia dan Pancasila.

Karenanya, kami tidak bisa menerima hal ini. Wajib diproses hukum. 
Setuju? 
Setuju... 
Takbir! 
Allahu Akbar...


Respons Publik dan Sorotan Etika Siaran

Peristiwa ini memancing diskusi publik mengenai standar etika pertelevisian di Indonesia. 
Tayangan yang bersinggungan dengan simbol atau kalimat keagamaan memang memerlukan kehati-hatian ekstra, mengingat keberagaman budaya dan sensitivitas masyarakat Indonesia.

Sejumlah warganet juga menyuarakan keberatan melalui berbagai platform media sosial. 
Sebagian di antaranya meminta lembaga penyiaran agar meningkatkan pengawasan konten hiburan, terutama yang disiarkan pada jam tayang publik dan melibatkan unsur agama.

Hingga artikel ini ditayangkan, pihak stasiun televisi terkait belum mengeluarkan pernyataan resmi, sementara diskusi publik masih berlangsung di berbagai kanal digital.


Menuju Reuni Akbar Mujahid–Mujahidah 212

Dalam kesempatan terpisah, Dr. Habib Hanif juga mengajak umat untuk hadir dalam Reuni Akbar 212, yang rencananya digelar pada:
    • Selasa, 2 Desember 2025 / 11 Jumadil Akhir 1447 H
    • Lokasi : Silang Monas, Jakarta
    • Waktu : Maghrib – Selesai

Rangkaian acara meliputi:
    • Sholat Maghrib Berjamaah
    • Dzikir & Munajat
    • Muhasabah
    • Sholat Isya Berjamaah
    • Maulid Nabi
    • Sambutan
    • Qashidah
    • Tausiyah

Dengan tema besar: 
Revolusi Akhlak untuk Selamatkan NKRI dari Penjahat dan Merdekakan Palestina dari Penjajah.

Informasi infaq acara dan kanal komunikasi juga telah disediakan panitia melalui media sosial dan laman resmi yang dibagikan.

Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa penggunaan unsur-unsur religius dalam hiburan membutuhkan standar etika yang kuat dan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual masyarakat. 
Reaksi keras yang muncul menunjukkan bahwa kalimat tauhid memiliki posisi sangat sakral bagi umat Islam, dan kesalahan penempatan dapat memicu sensitivitas publik.

Di sisi lain, momentum reuni akbar yang akan digelar Desember nanti menjadi ajakan untuk memperkuat spiritualitas, moralitas, dan solidaritas umat dalam bingkai kebangsaan.


(as)
#KalimatTauhid #HabibHanifAlatas #Indosiar #Reuni212 #RevolusiAkhlak #BeritaIslam #KontroversiTV