Terungkap! Jaringan Provokator di Balik Upaya Adu Domba Kyai dan Habaib



Fatahillah313, Jakarta - Situasi yang mengkhawatirkan tengah melanda sebagian kalangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). 
Gelombang provokasi yang memecah belah antara kyai dan habaib bukan terjadi secara alami, melainkan diduga merupakan hasil rekayasa sekelompok kecil orang dengan motif ideologis dan dendam pribadi.

Sumber internal dari beberapa pesantren besar di Jawa Timur menyebut beberapa nama yang kerap memantik konflik terbuka di media sosial dan forum daring. 
Mereka adalah Mas Marzuqi Mustamar, Imaduddin bin Sarman, Abbas Tompel, Nur Ihyak, dan Oma Irama. 
Kelompok ini disebut memiliki keterkaitan dengan sekte yang dikenal sebagai jamaah Imad bin Sarman, atau yang oleh sebagian kalangan dijuluki sebagai kelompok “begal nasab”, yakni mereka yang meragukan, menghina, atau bahkan memalsukan nasab para habaib keturunan Rasulullah ﷺ.

Lebih jauh, jaringan ini juga dikaitkan dengan kelompok PWI-LS (Perkumpulan Warga Iri Lahir Syekh), sebuah sindiran keras terhadap sekelompok orang yang dianggap menebar kebencian karena kedengkian terhadap kehormatan nasab Ahlul Bayt.


Strategi Adu Domba: Serang dari Dalam Aswaja 

Fenomena provokasi ini tidak sekadar berupa debat teologis, tetapi terstruktur dan sistematis. 
Narasi mereka sengaja diarahkan untuk:
    1. Memecah barisan Aswaja dengan membenturkan para kyai dan habaib.
    2. Menciptakan kebingungan teologis di kalangan umat awam.
    3. Menyusupkan fitnah dan hoaks di kanal-kanal dakwah digital.

Tagar dan potongan video provokatif bertebaran di media sosial. Beberapa akun anonim bahkan menggunakan nama-nama pesantren atau lembaga Islam untuk menambah kredibilitas palsu. 
Hasilnya: muncul saling hujat, caci-maki, dan blokade antaralumni pesantren yang dulu bersaudara.

Salah satu narasi yang kerap mereka usung adalah bahwa habaib dianggap merasa “lebih mulia” dari kyai lokal. 
Padahal, para ulama Aswaja sejati justru menegaskan bahwa antara habaib dan kyai adalah dua pilar yang saling melengkapi dalam menjaga agama dan umat.


Dampak Sosial dan Akidah: Umat Awam Jadi Korban 

Efek domino dari provokasi ini luar biasa. Masyarakat awam yang tidak memahami akar masalah ikut terhasut. 
Mereka tanpa sadar melontarkan hinaan terhadap habaib atau kyai, bahkan menganggap ajaran Aswaja sebagai sumber perpecahan.

Situasi ini semakin parah ketika kelompok Wahabi dan Salafi ekstrem ikut memanfaatkan momentum untuk menjelekkan ulama tradisional. 
Mereka menggunakan narasi “perebutan nasab” dan “pemujaan habaib” untuk menggiring opini bahwa Aswaja sesat.

Tak berhenti di situ, kalangan non-Muslim tertentu juga turut memanfaatkan konflik internal umat Islam ini. 
Media asing dan akun propaganda lintas agama dengan sengaja menyoroti perpecahan umat Islam untuk menggambarkan bahwa “Islam tidak bisa bersatu”.


Siapa Diuntungkan? 

Jika ditelusuri, motif utama para provokator ini bukanlah kebenaran ilmiah, melainkan kepentingan personal dan ego spiritual. 
Ada yang haus pengakuan keilmuan, ada pula yang ingin tampil sebagai “penyelamat akidah”, padahal sebenarnya justru menjadi penyulut api fitnah.

Sejumlah analis sosial menyebut bahwa fenomena ini mengingatkan pada pola lama infiltrasi ideologis, di mana kelompok marginal mencoba meraih legitimasi dengan cara menyerang simbol-simbol utama Islam Nusantara, yakni kyai, habaib, dan pesantren.
Fitnah terhadap habaib adalah fitnah terhadap Rasulullah ﷺ. Dan permusuhan terhadap kyai adalah permusuhan terhadap penjaga ilmu dan akhlak umat,
ujar seorang ulama senior di Jawa Tengah yang enggan disebut namanya.


Seruan untuk Bersatu 

Kini, para tokoh Aswaja menyerukan agar umat tidak mudah terprovokasi. 
Konflik ini bukan antara habaib dan kyai, melainkan antara umat Islam dan para pengadu domba.

Umat diimbau untuk tabayyun dalam menerima informasi, terutama dari media sosial, serta menghidupkan kembali tradisi musyawarah dan silaturahmi.

Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ" 
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.



Perpecahan antar habaib dan kyai bukanlah takdir, melainkan skenario yang bisa dilawan dengan ilmu, akhlak, dan ukhuwah. 
Jangan biarkan fitnah ini tumbuh. Sebab jika para penjaga agama pecah, maka umat akan kehilangan arah.


(as)
#AduDombaUmat #AswajaBersatu #StopFitnahHabaib #JagaKyaiDanUlama #IslamRahmatanLilAlamin #FitnahNasab #UkhuwahIslamiyah #Tabayyun #BegalNasab #ProvokasiDigital