Fatahillah313, Jakarta - Pendidikan Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, kembali menjadi sorotan publik.
Setelah isu keaslian ijazah bergulir di pengadilan, kini giliran seorang profesor dari kampus ternama Singapura yang mempertanyakan keabsahan jalur pendidikan Gibran di negeri tetangga tersebut.
Adalah Prof. Sulfikar Amir, pakar sosiologi bencana dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, yang angkat bicara.
Adalah Prof. Sulfikar Amir, pakar sosiologi bencana dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, yang angkat bicara.
Ia mengurai dengan rinci bagaimana sistem pendidikan Singapura berjalan, dan menegaskan ada kejanggalan besar dalam perjalanan akademik Gibran, khususnya terkait masuknya ia ke Management Development Institute of Singapore (MDIS).
Sistem Pendidikan Singapura: Ketat, Bertingkat, dan Berstandar Inggris Menurut Prof. Sulfikar, Singapura mengadopsi sistem pendidikan ala Inggris yang memiliki jalur jelas dan berjenjang.
Lintasan Gibran: Dari Solo ke Orchard Park Secondary Berdasarkan informasi publik, Gibran menamatkan SD di Solo, lalu menempuh kelas 7–8 SMP di Indonesia sebelum melanjutkan sekolah ke Singapura.
Namun di titik ini muncul masalah besar. Menurut standar Singapura, Gibran hanya sampai O Level, tanpa melanjutkan ke A Level atau junior college.
Sistem Pendidikan Singapura: Ketat, Bertingkat, dan Berstandar Inggris Menurut Prof. Sulfikar, Singapura mengadopsi sistem pendidikan ala Inggris yang memiliki jalur jelas dan berjenjang.
- Primary School (6 tahun) – setara SD di Indonesia.
- Secondary School (4 tahun) – setara SMP + kelas 1 SMA.
- Di akhir tahap ini, siswa wajib menempuh O Level (Ordinary Level Exam).
- Junior College (2 tahun) – setara SMA di Indonesia.
- Siswa menempuh A Level (Advanced Level Exam) sebagai syarat masuk universitas.
- Politeknik – jalur pendidikan kejuruan, mirip SMK, bisa lanjut kuliah ke jalur tertentu.
Kalau pakai standar Singapura, lulusan O Level belum cukup untuk masuk universitas tanpa A Level atau junior college,” tegas Sulfikar.
Lintasan Gibran: Dari Solo ke Orchard Park Secondary Berdasarkan informasi publik, Gibran menamatkan SD di Solo, lalu menempuh kelas 7–8 SMP di Indonesia sebelum melanjutkan sekolah ke Singapura.
Asumsinya, dia menyelesaikan kelas 9 dan 10 di Orchard Park Secondary School, Singapura,” jelas Prof. Sulfikar.
Namun di titik ini muncul masalah besar. Menurut standar Singapura, Gibran hanya sampai O Level, tanpa melanjutkan ke A Level atau junior college.
Saya tidak tahu mengapa dia bisa masuk kuliah di MDIS. Mungkin ada persyaratan khusus yang dia penuhi,” tambah Sulfikar.
Pertanyaan Publik: Jalur Istimewa?
Pertanyaan pun bergulir:
Isu ini semakin menarik karena bersamaan dengan gugatan ijazah Gibran di pengadilan Indonesia.
- Bagaimana mungkin Gibran diterima di MDIS tanpa A Level?
- Apakah ada jalur khusus yang dibuka untuknya?
- Atau, apakah ada “rekayasa administratif” di balik layar?
Isu ini semakin menarik karena bersamaan dengan gugatan ijazah Gibran di pengadilan Indonesia.
Publik kian menuntut transparansi: apakah jalur pendidikan Wapres sah secara akademik, atau sekadar formalitas politik?
Analisis: Dampak Politik dan Legitimasi
Kredibilitas pendidikan seorang pemimpin, apalagi Wakil Presiden, bukan sekadar urusan pribadi.
Ia menyangkut legitimasi moral dan politik.
Jika terbukti ada jalur pintas atau keistimewaan yang tidak sesuai standar, hal ini berpotensi merusak kepercayaan publik dan menimbulkan kesan bahwa aturan hanya berlaku bagi rakyat kecil, bukan elite politik.
Dalam konteks demokrasi, kasus ini bukan sekadar soal ijazah. Ia adalah cerminan ketidakadilan struktural yang bisa memicu kekecewaan publik lebih luas.
Jika terbukti ada jalur pintas atau keistimewaan yang tidak sesuai standar, hal ini berpotensi merusak kepercayaan publik dan menimbulkan kesan bahwa aturan hanya berlaku bagi rakyat kecil, bukan elite politik.
Dalam konteks demokrasi, kasus ini bukan sekadar soal ijazah. Ia adalah cerminan ketidakadilan struktural yang bisa memicu kekecewaan publik lebih luas.
Skandal pendidikan Gibran masih menyisakan banyak tanda tanya. Penjelasan Prof.
Sulfikar membuka pintu diskusi serius: apakah Wapres benar-benar menempuh jalur akademik sesuai prosedur, ataukah ada “jalan tikus” yang membawanya ke MDIS?
Di tengah sorotan publik dan gugatan hukum, transparansi mutlak diperlukan.
Di tengah sorotan publik dan gugatan hukum, transparansi mutlak diperlukan.
Sebab, kepercayaan rakyat hanya bisa lahir dari kejujuran, bukan sekadar gelar akademik.
#GibranRakabuming #SkandalIjazah #MDISSingapore #PendidikanSingapura #Alevel #Olevel #IjazahPalsu #PolitikIndonesia


