Habib Abubakar Assegaf: Perusakan Makam Habaib di Winongan Adalah Cara-cara PKI!

ABU AULIA, Jakarta - Aksi perusakan makam para habaib di Dusun Serambi, Desa Winongan Kidul, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, bukan sekadar tindak kriminal biasa. 
Bagi umat Islam, peristiwa ini adalah pelecehan terhadap kehormatan ulama dan dzurriyah Rasulullah ﷺ.

Ribuan jamaah, ulama, dan habaib tumpah ruah mendatangi Polsek Winongan, Rabu (1/10/2025) siang. Mereka menuntut aparat bertindak cepat dan tegas. 
Dalam barisan itu hadir pula Habib Abubakar bin Hasan Assegaf, yang dengan lantang menegaskan:
Cara-cara seperti ini adalah warisan PKI. Dulu PKI sangat membenci ulama, habaib, dan orang-orang shalih. Sekarang pola itu muncul kembali.


Makam Keluarga Habaib Jadi Sasaran 

Perusakan terungkap pada Rabu pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Beberapa makam mulia yang menjadi sasaran antara lain:
  • Makam Habib Abdul Kadir bin Umar al-Hadar
  • Makam Habib Abdul Kadir bin Hasyim bin Muhammad bin Umar al-Hadar
  • Makam Syarifah Khotijah binti Achmad al-Habsyi
  • Makam Habib Mustofa bin Abdullah al-Hadar
  • Dan sejumlah makam keluarga habaib lainnya.

Kondisi makam ditemukan hancur parah. Batu nisan pecah, sebagian area makam digali, dan pagar makam pun rusak. 
Kerugian material diperkirakan mencapai Rp 80 juta.


Laporan Resmi ke Polisi 

Pelaporan dilakukan oleh Sayyid Hasan Fahmi (29), warga Desa Bandaran, Kecamatan Winongan. 
Usai berziarah, ia kaget mendapati makam keluarganya rusak berat.
Setelah ziarah, saya mendapati kondisi makam keluarga sudah hancur. Karena itu saya melaporkannya ke pihak kepolisian,” tegas Fahmi dalam laporannya.

Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor STPL/13/X/2025/Polsek Winongan.

Pihak kepolisian menegaskan kasus ini sedang ditangani serius dengan jeratan Pasal 179 jo 170 KUHP tentang pengrusakan.


Dugaan Pelaku dan Motif 

Keterangan sejumlah warga menyebut, pelaku perusakan diduga kelompok yang diketuai Cak UD bersama komplotannya. 
Mereka disebut berafiliasi dengan kelompok PWI-LS, yang dikenal sebagai pengikut Imaduddin bin Sarmana bin Arsa, seorang pria asal Banten.

Imaduddin dikenal ambisius. Ia berusaha keras diakui sebagai keturunan Walisongo dan Rasulullah ﷺ, namun klaimnya ditolak. Rabithah Alawiyah dan seluruh naqobah asyraf di dunia telah menegaskan, nasabnya tidak sah. 
Ayah kandung Imad adalah Sarmana bin Arsa, bukan cucu Sultan Hasanuddin Banten maupun dzurriyah Walisongo.

Kegagalan klaim nasab itulah yang diduga memicu rasa iri dan dendam, sehingga mereka melampiaskannya pada makam keluarga habaib.


Habib Abubakar: “Polanya Sama dengan PKI” 





Dalam orasinya, Habib Abubakar Assegaf menyebut bahwa tindakan ini mengingatkan pada kekejaman PKI sebelum 1965.
PKI dulu membunuh ulama, habaib, bahkan merusak pesantren. Kini, pola yang sama muncul: menyerang kehormatan para habaib, bahkan sampai ke makam. Ini pelecehan besar.


Habib Abubakar menegaskan umat Islam tidak boleh tinggal diam. Ia mendesak aparat agar bertindak tegas, demi menjaga kesucian makam dan kehormatan dzurriyah Rasulullah ﷺ.


Desakan Publik untuk Keadilan 

Masyarakat menilai aksi ini bukan sekadar vandalisme, tetapi juga simbol kebencian terhadap habaib.
Jika kasus ini dibiarkan, akan muncul kejadian serupa. Polisi harus segera menindak tegas agar tidak ada lagi pelecehan terhadap makam ulama dan habaib,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.


Polsek Winongan sendiri menyatakan proses hukum sudah berjalan dan pihaknya berkomitmen mengusut tuntas kasus ini.


Kasus perusakan makam habaib di Winongan menjadi ujian serius bagi aparat dalam menegakkan hukum. 
Umat Islam menunggu langkah konkret agar pelaku dihukum setimpal. 
Lebih dari sekadar pengrusakan, ini adalah serangan terhadap kehormatan ulama dan dzurriyah Nabi ﷺ, yang bagi umat Islam tidak bisa ditawar.


(as)
#HabibAbubakarAssegaf #PerusakanMakamHabaib #Winongan #Pasuruan #DzurriyahRasulullah #PKI #RabithahAlawiyah #Ulama #Habaib #KeadilanUntukHabaib