Fatahillah313, Jakarta - Polemik utang proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung (KCJB) kembali menyeruak.
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menegaskan dengan lantang bahwa pemerintah tidak bertanggung jawab atas beban utang proyek kereta cepat Whoosh, melainkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Kalau ini di bawah Danantara, maka mereka sudah punya manajemen sendiri, sudah punya dividen sendiri yang rata-rata setahun bisa mencapai Rp80 triliun atau lebih
Harusnya mereka mengelola dari situ, jangan ke pemerintah lagi,
ujar Purbaya dalam media briefing di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/10/2025).
Danantara dan Struktur Tanggung Jawab
Danantara dan Struktur Tanggung Jawab
Menurut Purbaya, PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC), anak usaha PT KAI, secara struktural berada di bawah Danantara, bukan lagi langsung di bawah Kementerian BUMN.
Dengan demikian, penyelesaian utang proyek KCJB bukan urusan APBN, melainkan menjadi beban internal Danantara sebagai pengelola investasi strategis BUMN.
Purbaya menegaskan bahwa reformasi tata kelola BUMN melalui Danantara bertujuan agar intervensi pemerintah berkurang, dan BUMN dapat lebih mandiri secara finansial.
Purbaya menegaskan bahwa reformasi tata kelola BUMN melalui Danantara bertujuan agar intervensi pemerintah berkurang, dan BUMN dapat lebih mandiri secara finansial.
Kalau semuanya kembali ke kita (pemerintah), lalu apa gunanya mereka dipisahkan dari APBN?
tambahnya dengan nada tegas.
Purbaya juga menyinggung soal dividen BUMN yang kini tidak lagi masuk ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), tetapi dialihkan ke Danantara.
Purbaya juga menyinggung soal dividen BUMN yang kini tidak lagi masuk ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), tetapi dialihkan ke Danantara.
Jadi, kalau enak swasta, jangan kalau rugi malah ke government lagi. Ini harus konsisten,
sindirnya.
Bom Waktu Utang KCIC
Namun kenyataan di lapangan tak seindah teori. Utang proyek kereta cepat Whoosh terus membengkak, menyeret BUMN-BUMN besar yang tergabung dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).
Catatan keuangan menunjukkan sinyal bahaya:
Kondisi ini memperkuat anggapan bahwa proyek kereta cepat telah menjadi “bom waktu finansial” yang siap meledak kapan saja.
Catatan keuangan menunjukkan sinyal bahaya:
- Kerugian PSBI pada 2024 mencapai Rp4,195 triliun.
- Paruh pertama 2025, PSBI kembali merugi Rp1,625 triliun.
Kondisi ini memperkuat anggapan bahwa proyek kereta cepat telah menjadi “bom waktu finansial” yang siap meledak kapan saja.
Biaya konstruksi yang terus membengkak dan pendapatan operasional yang belum seimbang membuat arus kas KCIC berdarah-darah.
Padahal sejak awal, pemerintah di bawah Presiden Joko Widodo menegaskan proyek ini tidak akan menggunakan dana APBN dan tidak akan mendapat jaminan pemerintah.
Padahal sejak awal, pemerintah di bawah Presiden Joko Widodo menegaskan proyek ini tidak akan menggunakan dana APBN dan tidak akan mendapat jaminan pemerintah.
Namun, realitas berkata lain.
Ketika biaya melonjak dan tekanan dari pihak kreditur Tiongkok meningkat, APBN akhirnya ikut turun tangan dalam bentuk penyertaan modal negara (PMN) dan jaminan pembayaran utang.
Danantara Siapkan Dua Opsi
Solusi Menanggapi situasi ini, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Doni Oscaria, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan dua opsi utama untuk menyelamatkan proyek KCIC:
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roslani, menambahkan bahwa negosiasi restrukturisasi utang KCIC saat ini masih berlangsung antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Cina, melalui koordinasi dengan National Development and Reform Commission (NDRC).
Rosan menyebut bahwa restrukturisasi ini tidak hanya bertujuan meredam beban jangka pendek, tetapi juga untuk membangun model pembiayaan baru agar risiko serupa tidak berulang di masa depan.
- Menambah penyertaan modal (equity) guna memperkuat posisi keuangan KCIC.
- Menyerahkan infrastruktur KCIC kepada pemerintah jika beban utang terlalu berat untuk ditanggung sendiri.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roslani, menambahkan bahwa negosiasi restrukturisasi utang KCIC saat ini masih berlangsung antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Cina, melalui koordinasi dengan National Development and Reform Commission (NDRC).
Rosan menyebut bahwa restrukturisasi ini tidak hanya bertujuan meredam beban jangka pendek, tetapi juga untuk membangun model pembiayaan baru agar risiko serupa tidak berulang di masa depan.
Beban Finansial BUMN dan Efek Domino
Akibat terus membengkaknya kerugian, BUMN-BUMN yang menjadi pemegang saham KCIC seperti KAI, Wijaya Karya, PTPN VIII, dan Jasa Marga, ikut terseret.
Laporan keuangan mereka menunjukkan tekanan signifikan pada arus kas dan rasio utang.
Hal ini menciptakan efek domino pada stabilitas fiskal dan potensi dividen yang disetorkan ke Danantara, yang pada akhirnya bisa berdampak pada ekosistem keuangan negara.
Salah satu ekonom senior bahkan menyebut proyek KCIC sebagai “monumen mahal kebijakan ambisius yang tidak matang secara finansial”, yang kini menjadi ujian serius bagi model investasi hibrida antara pemerintah, BUMN, dan swasta.
Hal ini menciptakan efek domino pada stabilitas fiskal dan potensi dividen yang disetorkan ke Danantara, yang pada akhirnya bisa berdampak pada ekosistem keuangan negara.
Salah satu ekonom senior bahkan menyebut proyek KCIC sebagai “monumen mahal kebijakan ambisius yang tidak matang secara finansial”, yang kini menjadi ujian serius bagi model investasi hibrida antara pemerintah, BUMN, dan swasta.
Antara Ambisi dan Realitas
Proyek Whoosh yang semula diklaim sebagai simbol kemajuan dan transformasi infrastruktur nasional kini menghadapi realitas pahit: beban utang triliunan rupiah dan ketidakjelasan tanggung jawab keuangan.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْSesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’d [13]:11)
Ayat ini seolah menjadi pengingat keras bagi pengambil kebijakan, bahwa perubahan sistem dan niat baik harus diikuti dengan tata kelola yang jujur dan transparan.
Danantara di Persimpangan Jalan
Kini bola panas utang KCIC berada di tangan Danantara. Jika gagal menuntaskan restrukturisasi utang, bukan tak mungkin pemerintah kembali terseret, meski telah berulang kali menegaskan tidak akan menanggung beban tersebut.
Publik menunggu bukti: apakah Danantara benar-benar mampu berdiri mandiri sebagai pengelola investasi BUMN, atau hanya menjadi perpanjangan tangan politik ekonomi lama yang akhirnya tetap menggantungkan diri pada APBN.
(as)
#Whoosh #KCIC #Danantara #UtangBUMN #KeretaCepatJakartaBandung #EkonomiNasional #RestrukturisasiUtang #PurbayaYudiSadewa #BPI #BUMN #InvestasiNegara #APBN #RosanRoslani #ProyekStrategis #WhooshCrisis
Publik menunggu bukti: apakah Danantara benar-benar mampu berdiri mandiri sebagai pengelola investasi BUMN, atau hanya menjadi perpanjangan tangan politik ekonomi lama yang akhirnya tetap menggantungkan diri pada APBN.
(as)
#Whoosh #KCIC #Danantara #UtangBUMN #KeretaCepatJakartaBandung #EkonomiNasional #RestrukturisasiUtang #PurbayaYudiSadewa #BPI #BUMN #InvestasiNegara #APBN #RosanRoslani #ProyekStrategis #WhooshCrisis

