Satu Guru, Tiga Jalan: Perjalanan Pencetus Ideologi Besar di Indonesia


Fatahillah313, Jakarta - Indonesia modern dibangun dari sejarah panjang perjuangan politik, sosial, dan ideologi. Di balik kemerdekaan, ada tokoh-tokoh yang berasal dari guru yang sama, tetapi menempuh jalur berbeda yang membentuk arus politik utama bangsa. Soekarno, Semaun, dan Kartosuwiryo adalah tiga murid HOS Tjokroaminoto yang menonjol, masing-masing menempuh jalur nasionalisme, komunisme, dan Islamisme.


1. Titik Awal: HOS Tjokroaminoto dan Pendidikan Politik

HOS Tjokroaminoto adalah pemimpin Sarekat Islam (SI) yang menjadi magnet bagi pemuda-pemuda Indonesia pada awal abad ke-20. Rumahnya di Surabaya menjadi pusat perkaderan politik, tempat belajar retorika, strategi organisasi, dan semangat anti-kolonial.

Soekarno, Semaun, dan Kartosuwiryo belajar langsung atau tidak langsung dari Tjokroaminoto.

Hubungan Soekarno lebih pribadi karena ia menikahi Siti Oetari (Siti Utari), putri Tjokroaminoto, tapi akhirnya bercerai. Pernikahan ini mempererat hubungan sosial-politik Soekarno dengan guru besarnya.

Di sinilah mereka menimba dasar pemikiran politik yang kelak bercabang menjadi tiga arus besar: nasionalisme, komunisme, dan Islamisme.


2. Semaun: Pelopor Komunisme Indonesia

Semaun (1899–1971) adalah yang tertua di antara ketiganya. Dari keluarga buruh di Semarang, ia aktif di organisasi buruh dan Sarekat Islam. Pada 1920, Semaun mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI), partai komunis pertama di Asia.

• Fokus perjuangan: kelas pekerja, revolusi sosial, aksi langsung.
• Pemberontakan 1926–1927 melawan Belanda.
• Karakter: keras kepala, disiplin, ideologis.

Persinggungan politik: Semaun anti-Belanda seperti Soekarno, tetapi berbeda metode perjuangan. Dengan Kartosuwiryo hampir tidak ada titik temu karena komunisme menolak agama, sedangkan Kartosuwiryo mendirikan negara berbasis syariat.


3. Soekarno: Nasionalis dan Proklamator

Soekarno (1901–1970) lahir di Surabaya, belajar teknik sipil di Bandung. Ia belajar retorika politik dari Tjokroaminoto dan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927.

• Dipenjara Belanda dan diasingkan ke Ende dan Bengkulu.
• Menjadi Proklamator dan Presiden RI pertama.
• Karisma dan kemampuan persuasifnya menjadikannya pemimpin sentral dalam perjuangan nasional.

Persinggungan: berbeda metode dengan Semaun dan Kartosuwiryo. Soekarno mendukung Pancasila, sedangkan Kartosuwiryo menolak dan mendirikan NII.


4. Kartosuwiryo: Islamisme dan NII

Kartosuwiryo (1905–1962), dari keluarga pesantren, menempuh pendidikan kedokteran di Batavia. Bergabung dengan PSII sebelum mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) pada 7 Agustus 1949 di Jawa Barat.

• Memimpin gerakan bersenjata Darul Islam/TII hingga ditangkap dan dieksekusi mati 1962.
• Karakter: idealistis, dogmatis, militansi tinggi.

Awalnya pengaruhnya terbatas pada pedesaan dan pesantren, tapi NII kemudian menimbulkan konflik bersenjata.


5. Mengapa Mereka Bertolak Belakang

Meskipun belajar dari guru yang sama, mereka berbeda karena faktor:

• Psikologis: Semaun keras kepala, Soekarno fleksibel dan karismatik, Kartosuwiryo dogmatis.
• Politik: Semaun revolusi proletar, Soekarno nasionalisme, Kartosuwiryo negara Islam.
• Sosial: Semaun senior di buruh, Soekarno di mahasiswa dan intelektual, Kartosuwiryo di pesantren.

Hasilnya: ketiganya mengembangkan ideologi nasionalisme, komunisme, dan Islamisme yang bertolak belakang.


Peran Laskar Islam, Hisbullah, dan NII dalam Kemerdekaan

Selama agresi Belanda (1947–1949), laskar lokal Islam termasuk Hisbullah berperan di Jawa Barat dan pedesaan.

• NII resmi belum terbentuk saat agresi Belanda; baru dideklarasikan 7 Agustus 1949.
• Klaim NII/Hisbullah sebagai “gerakan terakhir mempertahankan Indonesia” tidak akurat; TNI dan pemerintah Republik tetap garda utama.
• Istilah “vacuum of power” adalah narasi politik internal NII, bukan fakta yang diakui internasional.
• Setelah deklarasi, NII menjadi pemberontak terhadap Republik Indonesia.


Status Hukum PKI dan NII

• PKI: Larangan resmi sejak pasca G30S/PKI 1965; ditegaskan melalui UU No. 27 Tahun 1999. Semua aktivitas PKI dianggap ilegal.
• NII: Dilarang sejak operasi militer 1949–1962, khususnya setelah penangkapan Kartosuwiryo. Segala aktivitas NII dan cabang Darul Islam dianggap ilegal dan terlarang.


8. Indonesia Modern: Nasionalisme Sebagai Fondasi

• Nasionalisme dan Pancasila menjadi ideologi utama yang menyatukan bangsa.
• Komunisme (PKI) dan Islamisme militan (NII) dianggap gerakan terlarang.

Pendidikan, simbol negara, dan hukum menegaskan bahwa semua aktivitas politik harus sejalan dengan Pancasila.


Relevansi Ideologi Hari Ini


• Nasionalisme Soekarno: Fondasi persatuan dan identitas bangsa.
• Komunisme ala Semaun: Inspirasi gerakan Pemberontakan PKI 1948, Gerakan revolusi G30S PKI.
• Islamisme ala Kartosuwiryo: Pengingat bentrok bersenjata, dan oprasi Pagar betis, dasar pendidikan Islam moderat.


Sejarah menunjukkan ideologi yang pernah bertarung dalam revolusi tetap bergerak dalam masyarakat, meski dalam bentuk berbeda. Pemahaman sejarah membantu generasi muda menilai ideologi secara cerdas.

Timeline Singkat (1945–1962)

1. 1945: Proklamasi Kemerdekaan RI.
2. 1947–1949: Agresi Belanda; laskar lokal/Hisbullah bertempur.
3. 7 Agustus 1949: Deklarasi NII oleh Kartosuwiryo.
4. 1949–1962: Operasi militer menumpas Darul Islam/TII.
5. 1962: Penangkapan dan eksekusi Kartosuwiryo.
6. 1965: G30S/PKI gagal → PKI dibubarkan.
7. 1999: UU No. 27 Tahun 1999 menegaskan larangan PKI.


Oleh: Ahmad Saugi
(as)
#SejarahIndonesia #Soekarno #Semaun #Kartosuwiryo #Tjokroaminoto #NII #PKI #Pancasila #JenderalSoedirman #BahayaLatenKomunis #DarulIslam #Nasionalisme