
Maulid
Nabi adalah sebuah perayaan. Dan bagi seorang muslim, kegembiraan
terbesar adalah kegembiraan dengan Rasulullah ﷺ.
Fatahillah313, Jakarta - Dalam lanskap intelektual Islam, Syekh Abuya Assayyid Muhammad Alawi Almaliki Alhasani adalah sosok yang tak terbantahkan. Sebagai ulama besar dari Makkah, keturunan Rasulullah ﷺ, dan pewaris ilmu para salaf, pandangan-pandangannya membawa bobot otoritas dan kedalaman spiritual yang langka. Salah satu pernyataannya yang paling tajam dan memukau adalah ketika beliau menyinggung perayaan Maulid Nabi. Beliau mengatakan,
"Tidak layak bagi seorang yang berakal bertanya, 'Mengapa kalian memperingati Maulid?!', karena seolah-olah dia bertanya: 'Mengapa kalian bergembira dengan kelahiran Rasulullah?'"
Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah pisau bedah yang membelah argumen-argumen dangkal dan membawa kita ke inti permasalahan. Pertanyaan "Mengapa Maulid?" seringkali diajukan oleh mereka yang berpegang pada pandangan sempit tentang bid'ah, menganggap setiap hal baru dalam agama sebagai sesuatu yang tercela, tanpa membedakan antara substansi dan bentuk. Mereka mencari dalil secara harfiah, melupakan semangat dan tujuan dari ajaran itu sendiri.
Memahami Esensi Kegembiraan
Syekh Muhammad Alawi Almaliki secara brilian membalikkan nalar tersebut. Beliau tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, tetapi mengubahnya menjadi pertanyaan yang lebih mendalam dan fundamental:
"Mengapa kalian bergembira dengan kelahiran Rasulullah?"
Jawaban dari pertanyaan ini sangat jelas: kegembiraan ini adalah cerminan dari iman. Kegembiraan ini bukan hanya tentang merayakan satu peristiwa bersejarah, tetapi tentang mengakui bahwa kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah rahmat terbesar yang pernah diberikan kepada alam semesta. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Katakanlah (wahai Muhammad): Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus: 58)
Para ulama menafsirkan "rahmat" dalam ayat ini sebagai Rasulullah ﷺ sendiri. Kehadiran beliau adalah manifestasi dari rahmat Allah yang melimpah, yang membawa cahaya kebenaran setelah kegelapan kebodohan. Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak bergembira dengan kehadiran rahmat yang begitu agung?
Maulid, Sebuah Ekspresi Kecintaan
Maulid bukan sekadar acara seremonial. Maulid adalah sebuah ekspresi cinta. Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya sebuah emosi, tetapi pondasi dari keimanan. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia."
Maka, perayaan Maulid adalah salah satu cara untuk menunjukkan kecintaan yang mendalam ini. Melalui pembacaan sejarah hidup beliau (sirah nabawiyah), pengagungan (madah), dan shalawat, kita tidak hanya mengingat, tetapi juga menghidupkan kembali kecintaan itu dalam hati. Ini adalah momen untuk merefleksikan kembali ajaran-ajaran beliau, mencontoh akhlak mulia beliau, dan memperbarui komitmen kita untuk mengikuti sunnahnya.
Mengapa Pertanyaan "Mengapa Maulid?" Tidak Relevan?
Pertanyaan itu menjadi tidak relevan karena menyempitkan makna dari sebuah perayaan. Pertanyaan itu mengabaikan konteks sejarah, spiritualitas, dan tujuan mulia dari perayaan itu sendiri.
Sejarah mencatat bahwa perayaan Maulid telah dilakukan sejak abad ke-4 Hijriah, jauh sebelum era modern. Para ulama besar dari berbagai mazhab telah mendukung, berpartisipasi, dan bahkan menulis buku-buku tentang Maulid. Dari Imam As-Suyuthi hingga Ibnu Hajar Al-Asqalani, mereka semua melihat Maulid sebagai sebuah bid'ah hasanah (inovasi yang baik) karena substansinya sejalan dengan syariat, yaitu mencintai Rasulullah ﷺ dan menyebarkan ajaran-ajaran beliau.
Pernyataan Syekh Muhammad Alawi Almaliki mengajak kita untuk melihat melampaui formalitas dan kembali ke inti. Perayaan Maulid bukanlah bid'ah yang tercela, melainkan bid'ah yang terpuji karena ia didasari oleh kecintaan yang tulus kepada Rasulullah ﷺ.
Pada akhirnya, pertanyaan
"Mengapa kalian memperingati Maulid?" harus diganti dengan pertanyaan yang lebih fundamental: "Apa yang telah aku lakukan untuk menunjukkan cintaku kepada Rasulullah ﷺ?"
Jika kita memahami bahwa Maulid adalah wujud nyata dari kegembiraan dan kecintaan, maka pertanyaan itu akan terasa kosong dan tidak relevan. Karena tidaklah pantas bagi seorang yang berakal bertanya mengapa orang lain bergembira dengan datangnya rahmat terbesar bagi alam semesta.
(as)
#Maulid #MaulidNabi #AbuyaAlmaliki #MaulidSebagaiKegembiraan #CintaRasulullah #MaulidNabiMuhammad #BidahHasanah #Islam #Muslim #SirahNabi

