Rumail Abbas Menohok: Membongkar Kekeliruan Tuduhan Manuskrip Palsu di Bahtsul Masail Brebes


Disclaimer: Tulisan ini tidak membahas persoalan nasab, melainkan soal validitas argumen dalam dunia sanad dan periwayatan hadis.

Fatahillah313, Jakarta - Kontroversi kembali mencuat ketika Ki Imad meluncurkan eBook berjudul “Manuskrip Palsu versi Rumail Abbas”. Saat itu, saya tidak langsung menanggapi karena mengira bahwa publik sudah cukup tercerahkan dengan bantahan-bantahan yang saya sampaikan di tulisan Pamitnya Ngantor. Namun rupanya, ekspektasi itu meleset.

Puncaknya, saat Gus Maimun Abdul Ghofur mengunggah cuplikan manuskrip yang saya temukan di forum Bahtsul Masail Brebes, riuh tuduhan pun muncul. Banyak yang menjadikan eBook Ki Imad sebagai “kitab sakti” untuk memvonis: palsu, palsu, palsu!


Tuduhan “Pencangkokan” Sanad

Ki Imad menuduh manuskrip saya palsu karena menurutnya sanad Husain al-Askari dalam manuskrip tersebut “mencangkok” sanad yang tertulis dalam Tarikh Baghdad karya al-Khathib al-Bagdadi. Ia berdalil bahwa al-Bagdadi hanya mencatat 11 nama murid Husain al-Askari, sehingga keberadaan Abdullah bin Ahmad bin Isa al-Alawi dianggap mustahil.
Namun, benarkah Husain al-Askari hanya memiliki 11 murid?


Jalur Sanad yang Dipersempit

Berikut daftar murid Husain al-Askari yang dikutip Ki Imad dari Tarikh Baghdad (juz 8, hlm. 669):
Dan aku (al-Bagdadi) meriwayatkan hadis dari Husain al-Askari melalui Abu al-Qasim al-Azhari, Abu Muhammad al-Jauhari, al-Hasan bin Muhammad al-Khallal, Ahmad bin Muhammad al-Atiqi, Abu al-Faraj bin Burhan, al-Qadi Abu al-‘Ala al-Wasithi, Abd al-Aziz bin Ali al-Azji, Ali bin Muhammad bin al-Hasan al-Maliki, al-Qadi Abu Abdillah al-Baidlawi, Ahmad bin Umar bin Ruh al-Nahrawani, dan Abu al-Qasim al-Tanukhi.

Redaksi ini jelas bukan daftar final murid Husain al-Askari, melainkan hanya jalur sanad langsung yang ditempuh al-Bagdadi dengan satu perantara. Menyimpulkan bahwa murid Husain al-Askari hanya berjumlah sebelas orang adalah kesalahan metodologis fatal.


Bukti Murid Lain dalam Tarikh Baghdad

Bahkan dalam kitab yang sama, banyak tokoh lain disebut meriwayatkan langsung dari Husain al-Askari. Beberapa contoh:
    1. Busyra bin Abdillah al-Rumi, bertemu langsung dengan Husain al-Askari (Tarikh Baghdad, juz 6, hlm. 69).
    2. Ali bin Abi Ali al-Bashri – meriwayatkan langsung, meski jalurnya lebih panjang (Tarikh Baghdad, juz 12, hlm. 411).
    3. Muhammad bin Abd al-Mu’min al-Iskafi – juga tercatat meriwayatkan dari Husain al-Askari (Tarikh Baghdad, juz 3, hlm. 189).

Tiga contoh ini saja sudah cukup untuk meruntuhkan klaim Ki Imad. Artinya, al-Bagdadi tidak pernah membatasi murid Husain al-Askari hanya 11 orang, melainkan sekadar mencatat jalur yang ia gunakan secara pribadi.


Kesalahan Fatal yang Berulang

Argumen yang disodorkan Ki Imad jelas rapuh. Dengan enteng ia menafikan riwayat-riwayat sahih hanya karena tidak tercantum dalam daftar sebelas. Padahal, metode seperti ini justru mereduksi tradisi keilmuan sanad yang kaya.

Alih-alih ilmiah, tuduhan “pencangkokan sanad” lebih mirip upaya simplifikasi yang dangkal. Dan ironisnya, sebagian orang masih terkecoh dengan argumen bahlul semacam itu.


Kontroversi manuskrip di Bahtsul Masail Brebes sesungguhnya menguji kecermatan kita membaca kitab turats. Tuduhan palsu terhadap manuskrip yang saya temukan tidak berdasar. Fakta-fakta dari Tarikh Baghdad justru menegaskan bahwa Husain al-Askari memiliki murid lebih banyak dari sekadar 11 orang.

Maka, siapa sebenarnya yang “bahlul”? Biarlah publik menilai.

Salam,
Rumail Abbas

#RumailAbbas #BahtsulMasail #ManuskripPalsu #SanadHadis #TarikhBaghdad #KhathibAlBagdadi #HusainAlAskari #DebatIlmiah