Dalam kesempatan tersebut, masing-masing tokoh menyampaikan pandangan kritis terkait kepemimpinan Presiden Jokowi, mulai dari isu kebijakan pembangunan hingga polemik keaslian ijazah yang masih menjadi perbincangan publik.
Ragam Pandangan dari Lima Tokoh
Rocky Gerung: Menyoroti Logika Kebijakan
Pengamat politik Rocky Gerung menilai sejumlah kebijakan pemerintah belum disusun berdasarkan logika yang konsisten. Ia mencontohkan proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang menurutnya menimbulkan lebih banyak persoalan ketimbang manfaat.
“Negara tidak boleh dijalankan dengan ilusi. Logika bernegara harus jelas dan berpihak pada rakyat,” ujar Rocky.
Roy Suryo: Meminta Kejelasan Soal Ijazah
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, menyinggung polemik keaslian ijazah Presiden Jokowi. Ia menyebut isu tersebut sebaiknya diselesaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan.
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, menyinggung polemik keaslian ijazah Presiden Jokowi. Ia menyebut isu tersebut sebaiknya diselesaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan.
“Kalau memang dokumen itu otentik, sebaiknya ditunjukkan secara transparan agar tidak ada keraguan publik,” kata Roy.
Dr. Rismon: Pentingnya Pendekatan Forensik
Ahli digital forensik Dr. Rismon menambahkan, perdebatan terkait dokumen publik seharusnya dapat dijawab melalui metode ilmiah.
“Teknologi digital forensik bisa memberikan kepastian. Karena itu, keterbukaan data sangat diperlukan,” ujarnya.
Dr. Tifa: Transparansi dalam Kebijakan Publik
Epidemiolog Dr. Tifauzia Tyassuma atau Dr. Tifa menekankan pentingnya transparansi pemerintah, baik dalam penanganan kesehatan maupun isu lain yang menyangkut kepentingan publik.
“Keterbukaan informasi adalah bagian penting dari kesehatan demokrasi. Tanpa itu, kebijakan akan sulit dipercaya masyarakat,” tutur Dr. Tifa.
Gatot Nurmantyo: Jangan Korbankan Kepentingan Bangsa
Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, menekankan pentingnya menjaga kepentingan nasional di atas kepentingan kekuasaan.
“Bangsa ini dibangun dengan pengorbanan. Jangan sampai kepentingan rakyat terabaikan hanya karena permainan politik,” kata Gatot.
Diskusi yang mempertemukan lima tokoh dengan latar belakang berbeda ini mencerminkan adanya keragaman kritik terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi. Meskipun pandangan yang disampaikan cukup tajam, forum tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa ruang dialog publik masih terbuka di tengah dinamika politik nasional.
(as)

