BEM UI dan Aliansi Mahasiswa Klaim Diblokade Polisi, Massa Terpecah di Semanggi hingga DPR RI

"Kami Bukan Musuh Negara, Kami Hanya Ingin Menyuarakan Rakyat"

Fatahillah313, Jakarta - Aksi mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Menuju Indonesia Bangkrut diwarnai ketegangan setelah sejumlah peserta aksi mengaku dihadang aparat kepolisian saat hendak menuju lokasi demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Jumat.

Dalam konferensi pers yang digelar di tengah konsolidasi massa, para perwakilan mahasiswa menyampaikan protes keras terhadap tindakan aparat yang disebut melakukan blokade, pencegatan, hingga menyebabkan massa aksi terpecah di sejumlah titik strategis ibu kota.

Mahasiswa menegaskan bahwa aksi mereka sejak awal direncanakan berlangsung di Bundaran HI dan pemberitahuan resmi telah disampaikan kepada pihak kepolisian sesuai prosedur yang berlaku.
Hari ini kami ingin menyampaikan bahwa kami mengalami penahanan, blokade, dan tindakan represif yang dilakukan aparat kepolisian. 
Padahal kami sudah mengirimkan surat pemberitahuan aksi dan sejak awal merencanakan demonstrasi di Bundaran HI,
ujar salah satu perwakilan mahasiswa dalam pernyataannya.


Mengaku Dihalangi Saat Hendak Salat Jumat 

Salah satu poin yang paling disorot mahasiswa adalah dugaan penghalangan saat sebagian peserta aksi hendak menunaikan Salat Jumat.

Menurut mereka, sekitar pukul 12.05 WIB, sejumlah mahasiswa yang berada di kawasan Dukuh Atas tidak diperbolehkan melanjutkan perjalanan menuju lokasi ibadah.

Mahasiswa menilai tindakan tersebut bertentangan dengan hak konstitusional warga negara dalam menjalankan ibadah.
Saat itu kami hendak melaksanakan Salat Jumat. 
Namun kami ditahan dan diarahkan untuk salat di tempat lain. Kami mempertanyakan dasar tindakan tersebut karena hak beribadah dijamin konstitusi,
kata salah satu orator.

Pernyataan itu langsung disambut sorakan massa yang menilai kebebasan beragama tidak boleh dibatasi oleh siapa pun.


Dihadang di Semanggi 

Mahasiswa juga mengungkapkan bahwa rombongan mereka mulai mengalami hambatan ketika tiba di kawasan Semanggi.

Meski telah menunjukkan bukti pemberitahuan aksi kepada aparat, mereka mengaku tetap tidak diberikan akses menuju lokasi tujuan.
Kami sudah menyampaikan bahwa surat pemberitahuan aksi telah diberikan. 
Namun ketika sampai di Semanggi kami justru dihadang. Bahkan ketika kami mencoba menjelaskan, respons yang kami terima hanya tawa dan penolakan,
ungkap perwakilan massa.

Tidak hanya di Semanggi, mahasiswa mengklaim pencegatan juga terjadi di sejumlah titik lain seperti kawasan GBK, Flyover Senayan, hingga sekitar Kompleks DPR RI.


Massa Terpecah di Berbagai Titik 

Situasi semakin rumit ketika massa aksi disebut terpecah akibat blokade aparat.

Koordinator lapangan menyebut beberapa kelompok mahasiswa terjebak di lokasi berbeda sehingga tidak dapat bergerak menuju titik kumpul utama.
Ada teman-teman yang tertahan di sekitar DPR, ada yang masih berada di Flyover Senayan, dan ada yang terpisah di beberapa titik lainnya. 
Kami tidak bisa maju dan tidak bisa mundur,
katanya.

Menurutnya, demi menghindari potensi bentrokan yang lebih besar, terutama karena banyak peserta aksi perempuan berada di barisan yang terjebak, mahasiswa memilih melakukan long march menuju kawasan TVRI sebagai titik konsolidasi sementara.

"Kami memilih langkah preventif. Kami tidak ingin terjadi tindakan yang membahayakan peserta aksi, terutama perempuan yang jumlahnya cukup banyak dalam rombongan yang terjebak," ujarnya.


Tegaskan Aksi Tetap di Bundaran HI 

Meski sempat diarahkan menuju kawasan DPR RI, mahasiswa menegaskan tujuan utama aksi tetap Bundaran HI.

Mereka menolak anggapan bahwa demonstrasi akan dialihkan ke Gedung DPR RI.

Menurut mereka, Bundaran HI dipilih karena merupakan ruang publik yang memungkinkan masyarakat luas mengetahui secara langsung tuntutan yang dibawa mahasiswa.
Kami tidak ingin aksi hanya terjadi di depan gedung-gedung kekuasaan. 
Kami ingin rakyat melihat, mendengar, dan ikut memahami persoalan yang sedang kami suarakan,
kata salah satu peserta aksi.

Mahasiswa bahkan meminta seluruh pihak yang dianggap menghalangi mobilisasi massa untuk membuka akses jalan menuju lokasi aksi.


Kritik Tajam terhadap Pemerintah dan DPR 

Dalam pernyataannya, para mahasiswa melontarkan kritik keras terhadap pemerintah maupun DPR RI.

Mereka menilai pemerintah semakin tidak responsif terhadap aspirasi publik, sementara DPR dianggap gagal menjalankan fungsi pengawasan terhadap kebijakan negara.

Mahasiswa mencontohkan sejumlah kebijakan yang menurut mereka lahir tanpa transparansi dan minim partisipasi publik.

Mereka menyoroti berbagai regulasi yang belakangan menuai kontroversi, termasuk pembahasan sejumlah rancangan undang-undang yang dianggap berlangsung cepat tanpa ruang diskusi yang memadai.
Kami melihat DPR semakin kehilangan fungsi pengawasannya. Banyak kebijakan penting yang muncul tanpa keterbukaan kepada publik,
ujar salah seorang perwakilan aliansi.


"Indonesia Terancam Bangkrut" 

Salah satu narasi utama yang diangkat Aliansi Gerakan Menuju Indonesia Bangkrut adalah kekhawatiran terhadap kondisi bangsa yang dinilai sedang menghadapi krisis multidimensi.

Mahasiswa menegaskan istilah "Indonesia Bangkrut" bukan hanya berbicara soal ekonomi, tetapi juga demokrasi dan moralitas penyelenggaraan negara.
Mengapa kami menggunakan istilah Indonesia Bangkrut? 
Karena kami melihat ancaman kebangkrutan bukan hanya ekonomi, tetapi juga demokrasi dan moral. 
Ketika suara rakyat dibungkam, itu tanda bahaya bagi negara,
tegas salah satu orator.

Menurut mereka, berbagai kebijakan pemerintah masih menunjukkan keberpihakan kepada kelompok elite ekonomi dibandingkan masyarakat luas.

Mahasiswa mencontohkan polemik kebijakan perpajakan UMKM yang dianggap memberatkan pelaku usaha kecil di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.


"Kami Bukan KKB" 

Di akhir konferensi pers, mahasiswa menyampaikan pesan emosional kepada aparat keamanan.

Mereka meminta agar mahasiswa tidak diperlakukan seperti ancaman keamanan negara.
Tolong jangan represif. Kami bukan KKB. Kami tidak membawa senjata. 
Kami datang membawa gagasan dan aspirasi rakyat. Jangan perlakukan mahasiswa seperti musuh negara,
ujar salah satu peserta aksi yang disambut teriakan dukungan massa.

Mahasiswa juga menegaskan bahwa gerakan yang mereka lakukan tidak ditunggangi kepentingan politik tertentu.

Menurut mereka, aksi tersebut lahir dari keresahan terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan demokrasi yang dirasakan masyarakat luas.
Ini bukan soal pendukung 01, 02, atau 03. 
Ini bukan soal kelompok politik tertentu. Ini soal rakyat Indonesia yang sama-sama merasakan kesulitan hidup dan ingin perubahan yang lebih baik,
tegas mereka.


Seruan untuk Rakyat Indonesia 

Menutup konferensi pers, para mahasiswa menyerukan persatuan masyarakat untuk lebih kritis terhadap berbagai kebijakan publik.

Mereka berharap aksi yang dilakukan tidak dipahami sebagai gerakan kelompok tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Kami ingin rakyat sadar bahwa persoalan bangsa ini adalah persoalan bersama. Mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga, pelaku UMKM, semuanya terdampak. 
Karena itu kami mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk ikut mengawasi jalannya pemerintahan dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik.


Konferensi pers ditutup dengan yel-yel "Hidup Mahasiswa", "Hidup Rakyat Indonesia", serta seruan agar kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum tetap dijamin dalam negara demokrasi.


(as)
#BEMUI #MahasiswaBergerak #AliansiIndonesiaBangkrut #DemoMahasiswa #BundaranHI #DPRRI #Jakarta #HidupMahasiswa #HidupRakyatIndonesia #DemokrasiIndonesia #AksiMahasiswa #BeritaNasional #Indonesia2026 #SuaraRakyat #GerakanMahasiswa