Rusia Hormati Langkah Indonesia di Board of Peace, Namun Beri Catatan Kritis

Fatahillah313, Jakarta - Langkah Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP) dan rencana pengiriman pasukan penjaga perdamaian ke Gaza memicu beragam respons di panggung internasional. Salah satu tanggapan penting datang dari Moskow. 
Pemerintah Rusia menyatakan menghormati keputusan tersebut sebagai hak kedaulatan Indonesia, namun secara terbuka juga menyampaikan sejumlah catatan strategis yang mencerminkan kehati-hatian mereka terhadap mekanisme baru tersebut.

Respons ini menunjukkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks di tengah konflik berkepanjangan di Timur Tengah, sekaligus menempatkan Indonesia dalam sorotan sebagai aktor diplomatik yang semakin aktif.


Rusia: Hormati Kedaulatan Indonesia 

Pernyataan resmi disampaikan oleh Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, dalam konferensi pers di Jakarta. 
Ia menegaskan bahwa Moskow memahami langkah yang diambil pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.

Menurut Tolchenov, keputusan tersebut dipandang sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam melindungi rakyat Palestina dan mendorong penyelesaian damai di kawasan.

Rusia melihat posisi Indonesia tetap konsisten dalam mendukung solusi dua negara, sebuah pendekatan yang selama ini juga menjadi garis kebijakan diplomasi Indonesia dalam konflik Israel-Palestina.


Rusia Tidak Terlibat dalam Board of Peace 

Meski menghormati keputusan Indonesia, Rusia menegaskan bahwa mereka tidak ikut serta dalam pembentukan Board of Peace. 
Bahkan, Moskow tidak memberikan dukungan suara terhadap resolusi yang menjadi dasar pembentukan mekanisme tersebut.

Bagi Rusia, BoP masih menyisakan sejumlah pertanyaan mendasar. 
Salah satu kritik utama adalah tidak adanya pembahasan eksplisit mengenai solusi dua negara dalam struktur atau agenda resmi BoP.

Yang lebih krusial, menurut Tolchenov, Palestina justru tidak memiliki representasi langsung dalam forum tersebut, sementara Israel termasuk di dalamnya. 
Ketimpangan ini dinilai berpotensi mengurangi legitimasi forum sebagai instrumen perdamaian yang inklusif.


Kekhawatiran atas Agenda yang Lebih Luas 

Rusia juga mengungkap kekhawatiran bahwa BoP berpotensi digunakan untuk kepentingan geopolitik yang lebih luas, khususnya oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Menurut pandangan Moskow, Board of Peace bisa berkembang bukan hanya sebagai mekanisme untuk menangani konflik Gaza, tetapi juga sebagai kendaraan untuk intervensi dalam berbagai krisis regional lainnya.

Selain itu, Rusia menilai BoP belum mencerminkan keseimbangan kekuatan global. 
Negara-negara besar seperti Rusia dan China tidak terlibat, sehingga forum tersebut belum dapat dianggap merepresentasikan konsensus internasional yang luas.


Sikap Rusia: Mengamati, Bukan Menolak 

Meski menyampaikan kritik, Rusia tidak mengambil posisi konfrontatif. 
Moskow menegaskan bahwa mereka tetap menghormati setiap negara yang memilih bergabung dan akan mencermati perkembangan implementasi BoP ke depan.

Pendekatan ini mencerminkan strategi diplomasi Rusia yang berhati-hati: 
Tidak mendukung secara langsung, namun juga tidak menutup ruang kerja sama jika mekanisme tersebut terbukti efektif.


Komitmen Rusia pada Solusi Dua Negara 

Di tengah dinamika tersebut, Rusia menegaskan kembali posisi dasarnya: 
Penyelesaian konflik Israel-Palestina harus berujung pada pembentukan dua negara yang hidup berdampingan secara damai.

Moskow menyatakan telah mengakui negara Palestina serta menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui jalur bilateral. 
Rusia juga mengklaim memiliki komunikasi langsung dengan para pemimpin Palestina sebagai bagian dari upaya diplomatik jangka panjang.


Indonesia di Tengah Panggung Diplomasi Global 

Respons Rusia menegaskan bahwa langkah Indonesia bergabung dalam Board of Peace bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan keputusan strategis yang mendapat perhatian dunia. 
Di satu sisi, Indonesia dipandang sebagai kekuatan moral yang aktif membela isu kemanusiaan. 
Di sisi lain, dinamika geopolitik global menuntut kehati-hatian agar setiap langkah tetap selaras dengan kepentingan perdamaian yang inklusif dan berimbang.

Dengan proses yang masih dalam tahap awal, masa depan Board of Peace akan sangat ditentukan oleh transparansi agenda, representasi yang adil, serta komitmen nyata terhadap solusi dua negara, bukan sekadar forum politik baru di tengah rivalitas global.

Sumber: CNBC
(as)
#BoardOfPeace #IndonesiaUntukPalestina #DiplomasiIndonesia #RusiaIndonesia #GeopolitikGlobal #SolusiDuaNegara #GazaCrisis #PerdamaianDunia #TimurTengah #PolitikInternasional