Fatahillah313, Jakarta - Pengumuman pembentukan Board of Peace untuk Gaza oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, langsung memantik perhatian dunia.
Bukan Tiba-Tiba: Rencana Lama yang Kembali Diangkat
Kini, menurut berbagai analisis, kemunculan kembali skema ini justru menunjukkan satu hal:
Dampak konflik Gaza bukan hanya lokal, tetapi juga menyentuh:
Dengan kata lain, Board of Peace bisa dibaca sebagai langkah politik di tengah tekanan yang menumpuk.
Forum yang disebut-sebut melibatkan sejumlah negara dari Asia, Afrika, Timur Tengah, hingga Eropa ini diklaim sebagai upaya rekonstruksi dan stabilisasi kawasan.
Namun, di balik narasi pembangunan, bandara modern, pelabuhan internasional, bahkan janji menjadikan Gaza “semakmur Singapura”, muncul pertanyaan mendasar:
Namun, di balik narasi pembangunan, bandara modern, pelabuhan internasional, bahkan janji menjadikan Gaza “semakmur Singapura”, muncul pertanyaan mendasar:
Mengapa Gaza begitu penting hingga memicu inisiatif global baru?Dan yang lebih krusial: mengapa upaya-upaya sebelumnya terus menemui jalan buntu?
Bukan Tiba-Tiba: Rencana Lama yang Kembali Diangkat
Bagi pengamat yang mengikuti dinamika konflik, gagasan “perdamaian dengan imbalan kemakmuran” bukanlah hal baru.
Selama bertahun-tahun, berbagai tawaran serupa telah muncul:
Namun inti dari semua proposal itu selalu sama:
- Penghentian perlawanan
- Pelucutan senjata kelompok perlawanan
- Pembukaan blokade
- Pembangunan infrastruktur modern
Namun inti dari semua proposal itu selalu sama:
Stabilitas ekonomi ditukar dengan kedaulatan keamanan.
Kini, menurut berbagai analisis, kemunculan kembali skema ini justru menunjukkan satu hal:
Kebuntuan strategi militer dan diplomatik sebelumnya.
Dampak konflik Gaza bukan hanya lokal, tetapi juga menyentuh:
- Citra global Amerika
- Stabilitas kawasan Timur Tengah
- Tekanan politik domestik di negara-negara Barat
- Beban ekonomi dan keamanan global
Dengan kata lain, Board of Peace bisa dibaca sebagai langkah politik di tengah tekanan yang menumpuk.
Gaza dan Prinsip yang Tak Bisa Dibeli
Salah satu faktor yang sering luput dalam analisis geopolitik adalah dimensi nilai dan keyakinan masyarakat Gaza.
Bagi banyak warga, konflik ini bukan sekadar soal wilayah atau kesejahteraan ekonomi. Gaza dipandang sebagai:
Karena itu, tawaran kemakmuran tanpa kedaulatan sering kali ditolak.
Bagi banyak warga, konflik ini bukan sekadar soal wilayah atau kesejahteraan ekonomi. Gaza dipandang sebagai:
- Tanah bersejarah para nabi
- Tanah wakaf umat Islam
- Simbol kehormatan dan identitas
- Ruang perjuangan kemerdekaan
Karena itu, tawaran kemakmuran tanpa kedaulatan sering kali ditolak.
Pilihan yang diambil bukan antara miskin atau kaya, tetapi antara nyaman atau merdeka.
Mentalitas ini menjelaskan mengapa, meski menghadapi tekanan militer besar, struktur sosial dan semangat perlawanan tetap bertahan.
Kekuatan Tak Kasat Mata: Faktor Sosial dan Budaya
Mentalitas ini menjelaskan mengapa, meski menghadapi tekanan militer besar, struktur sosial dan semangat perlawanan tetap bertahan.
Kekuatan Tak Kasat Mata: Faktor Sosial dan Budaya
Ketahanan Gaza tidak hanya bersumber dari aspek militer.
Beberapa faktor sosial yang sering disebut antara lain:
1. Budaya religius yang kuatIntegrasi nilai agama dalam kehidupan sehari-hari memperkuat daya tahan psikologis masyarakat.
2. Solidaritas komunitas tinggiSeluruh elemen masyarakat, tenaga medis, pekerja, pelajar, memiliki keterlibatan sosial yang kuat.
3. Mentalitas survivalHidup dalam blokade bertahun-tahun membentuk karakter tangguh dan adaptif.
4. Kemandirian ekonomi mikroWarga dikenal ulet dalam usaha kecil dan perdagangan meski dalam keterbatasan.
Kombinasi ini menciptakan resiliensi sosial yang sulit dihancurkan oleh tekanan eksternal.
Tanpa Suara Gaza: Kritik Terhadap Board of Peace
Salah satu kritik terbesar terhadap inisiatif ini adalah absennya representasi langsung masyarakat Gaza atau Palestina dalam struktur pengambilan keputusan.
Tanpa partisipasi pihak utama, forum tersebut dinilai berisiko menjadi:
Sejarah konflik menunjukkan bahwa setiap skema perdamaian yang tidak melibatkan aktor utama di lapangan cenderung sulit bertahan.
Mengapa Dunia Begitu Memperhatikan Gaza?
Tanpa partisipasi pihak utama, forum tersebut dinilai berisiko menjadi:
- Agenda politik eksternal
- Upaya stabilisasi versi negara donor
- Solusi teknokratis tanpa legitimasi lokal
Sejarah konflik menunjukkan bahwa setiap skema perdamaian yang tidak melibatkan aktor utama di lapangan cenderung sulit bertahan.
Mengapa Dunia Begitu Memperhatikan Gaza?
Selain faktor kemanusiaan, Gaza memiliki nilai strategis yang besar:
- Lokasi geografis di persimpangan tiga benua
- Kedekatan dengan jalur perdagangan penting
- Potensi energi di kawasan Mediterania Timur
- Posisi geopolitik dalam keseimbangan kekuatan regional
Dalam perspektif geopolitik, stabilitas Gaza berkaitan langsung dengan:
- Hegemoni kekuatan global
- Stabilitas Timur Tengah
- Keamanan energi
- Pengaruh politik Barat di kawasan
Tidak heran jika konflik ini sering disebut sebagai barometer kekuatan global.
Respons Global: Eropa Lebih Hati-Hati, Dunia Muslim Terbelah
Menariknya, sejumlah negara Eropa besar justru tidak terlibat aktif dalam Board of Peace.
Faktor yang memengaruhi antara lain:
Sebaliknya, sebagian negara Muslim justru menunjukkan respons yang lebih pragmatis, memicu perdebatan domestik di masing-masing negara.
Indonesia dan Diplomasi Publik
- Tekanan masyarakat sipil yang pro-Palestina
- Trauma reputasi akibat dukungan sebelumnya
- Kekhawatiran terhadap perubahan kebijakan AS
- Ketidakpastian politik jangka panjang
Sebaliknya, sebagian negara Muslim justru menunjukkan respons yang lebih pragmatis, memicu perdebatan domestik di masing-masing negara.
Indonesia dan Diplomasi Publik
Keterlibatan Indonesia dalam forum semacam ini juga menimbulkan diskusi publik.
Isu yang mengemuka antara lain:
Fenomena ini menunjukkan bahwa isu Palestina di Indonesia bukan sekadar politik luar negeri, tetapi juga isu moral dan identitas publik.
- Transparansi alasan kebijakan
- Perlunya dialog dengan masyarakat sipil
- Pentingnya keseimbangan antara diplomasi dan prinsip kemanusiaan
Fenomena ini menunjukkan bahwa isu Palestina di Indonesia bukan sekadar politik luar negeri, tetapi juga isu moral dan identitas publik.
Apakah Ini Bab Terakhir?
Apakah Board of Peace akan menjadi solusi?
Banyak analis menilai keberhasilannya bergantung pada satu hal utama:
Banyak analis menilai keberhasilannya bergantung pada satu hal utama:
Apakah tuntutan dasar masyarakat Gaza, terutama terkait kedaulatan keamanan, diakomodasi.
Jika tidak, skenario yang mungkin terjadi adalah:
- Penolakan lokal
- Implementasi terbatas
- Kebuntuan baru
- Siklus konflik berulang
Sejarah menunjukkan bahwa stabilitas yang dipaksakan tanpa legitimasi lokal jarang bertahan lama.
Gaza, Lebih dari Sekadar Konflik
Fenomena Board of Peace seharusnya membuka mata dunia:
Gaza bukan sekadar wilayah konflik kecil.
Ia adalah simpul dari:
Selama akar persoalan, keadilan, kedaulatan, dan legitimasi, belum tersentuh, setiap proyek perdamaian berisiko menjadi sekadar jeda, bukan solusi.
- Pertarungan geopolitik global
- Konflik nilai dan identitas
- Krisis kemanusiaan berkepanjangan
- Perebutan pengaruh peradaban
Selama akar persoalan, keadilan, kedaulatan, dan legitimasi, belum tersentuh, setiap proyek perdamaian berisiko menjadi sekadar jeda, bukan solusi.
(as)
#Gaza #BoardOfPeace #Palestina #GeopolitikGlobal #Trump #KonflikTimurTengah #Kemanusiaan #IndonesiaUntukPalestina #PerdamaianDunia

