Felix Xiaw: Saat Para Penjahat Ngomongin Damai

“Perdamaian??!!” Membaca Ulang Narasi Board of Peace ala Felix Siauw


Fatahillah313, Jakarta - Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, istilah perdamaian sering kali menjadi jargon yang terdengar menenangkan. 
Namun, dalam sebuah pemaparan yang viral di kanal YouTube, Felix Siauw mengajak publik melihat lebih dalam: 
Apakah semua inisiatif yang mengatasnamakan perdamaian benar-benar lahir dari niat damai? 
Ataukah justru menjadi instrumen kekuasaan?
Artikel ini merangkum dan menata ulang gagasan utama tersebut secara sistematis, dengan pendekatan humanis dan analitis, mengikuti alur pemikiran sumber.


1. Logika Dasar: Menilai dari Tujuan

Pembahasan dibuka dengan satu prinsip sederhana namun mendasar: 
Segala sesuatu harus dinilai dari tujuannya.
Analogi yang digunakan sangat mudah dipahami. 
Jika seseorang ingin ke Surabaya, maka semua persiapan, tiket, bekal, hingga perlengkapan, menjadi benar. 
Namun jika tujuannya ke Surabaya tetapi ia justru bergerak ke arah Padang, maka semua tindakan yang dilakukan menjadi keliru.

Pesannya jelas:
Jika tujuan sudah salah, maka seluruh proses yang mengikutinya juga bermasalah.

Dengan logika ini, publik diajak menilai berbagai kebijakan global, termasuk konsep yang disebut sebagai Board of Peace.


2. Board of Peace dan Politik Kekuatan Global

Dalam narasi yang disampaikan, Board of Peace dipandang bukan sekadar forum perdamaian, melainkan simbol dominasi kekuatan global, khususnya di bawah pengaruh Donald Trump.

Beberapa poin kritik yang disorot:
    • Amerika dinilai semakin menunjukkan pendekatan unilateral.
    • Dukungan kuat terhadap kebijakan Benjamin Netanyahu di Gaza dianggap sebagai bukti keberpihakan.
    • Posisi veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa membuat tekanan internasional menjadi tidak efektif.

Dalam perspektif ini, forum perdamaian dipersepsikan sebagai alat untuk menunjukkan siapa yang memiliki kendali, bukan ruang dialog yang setara.


3. Premanisme Global? Kritik terhadap Mekanisme Kekuasaan

Salah satu kritik tajam yang muncul adalah gambaran struktur kekuasaan yang tidak seimbang:
    • Negara peserta disebut harus memberikan kontribusi besar.
    • Mereka boleh memberi masukan, tetapi keputusan akhir tetap berada pada pihak dominan.
    • Partisipasi negara-negara lemah lebih karena tekanan ekonomi atau politik, bukan posisi tawar yang kuat.

Dalam kerangka ini, partisipasi bukan dilihat sebagai negosiasi, melainkan bentuk kepatuhan terhadap sistem kekuatan global.


4. Perdamaian Tanpa Korban? Kritik Representasi Gaza

Poin paling sensitif dalam pembahasan menyangkut konflik di Gaza. Kritik diarahkan pada paradoks berikut:
    • Pihak yang dianggap terlibat dalam konflik justru menjadi perancang perdamaian.
    • Sementara masyarakat terdampak tidak memiliki ruang representasi yang setara.
    • Gaza bahkan dipandang dalam narasi tertentu sebagai potensi kawasan ekonomi atau properti.

Pandangan ini menilai situasi tersebut sebagai bentuk neokolonialisme modern, penguasaan yang dilakukan melalui meja perundingan, bukan lagi melalui kekuatan militer semata.


5. Indonesia di Persimpangan: Realisme atau Idealisme?

Bagian lain yang disorot adalah posisi Indonesia.

Pertanyaan kritis yang diajukan:
    • Apakah keputusan bergabung didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan?
    • Ataukah karena faktor ekonomi dan hubungan dagang dengan Amerika?

Narasi ini menekankan pentingnya kejujuran politik: 
Jika keputusan didorong oleh kepentingan ekonomi atau stabilitas hubungan internasional, maka hal tersebut sebaiknya diakui secara terbuka.
Selain itu, keterlibatan dalam forum bersama Israel dipandang sebagian kalangan sebagai potensi langkah menuju normalisasi hubungan, isu yang sensitif dalam politik luar negeri Indonesia.


6. Bahaya Terbesar: Penjajahan Cara Berpikir

Refleksi yang paling filosofis muncul di bagian akhir.

Menurut pemaparan tersebut, kelemahan terbesar bukan semata-mata pada kekuatan militer atau ekonomi, melainkan pada ketergantungan cara berpikir.

Istilah yang digunakan: 
Penjajahan pemikiran: 
Saat solusi yang diambil justru mengikuti paradigma pihak yang dianggap dominan.
Pesan utamanya:
    • Kelemahan bisa diatasi dengan ilmu.
    • Pengetahuan melahirkan pilihan.
    • Pilihan melahirkan kemandirian dan posisi tawar.


7. Realitas dan Kesadaran

Diskursus ini bukan sekadar kritik politik, tetapi juga ajakan refleksi publik. 
Dunia internasional memang berjalan dalam realitas kekuatan, kepentingan, dan kompromi. 
Namun, kesadaran kritis tetap diperlukan agar istilah seperti perdamaian, stabilitas, dan keamanan tidak diterima begitu saja tanpa evaluasi.

Dalam dunia yang sarat kepentingan, pertanyaan paling penting tetap sama:
Perdamaian untuk siapa? 
Dan atas dasar kepentingan siapa?


(as)
#FelixSiauw #BoardOfPeace #GeopolitikDunia #Gaza #Palestina #PolitikGlobal #IndonesiaDiplomasi #IsuInternasional #PerdamaianDunia #AnalisisGlobal