Setali 3 uang Yaqut dan Staquf adik kakak sakiti dan buat malu ummat muslim


Fatahilla313, Jakarta - Di tengah dinamika sosial-politik nasional yang terus bergeliat, dua nama kakak beradik, Yahya Cholil Staquf dan Yaqut Cholil Qoumas, kembali menjadi sorotan publik. 
Keduanya menduduki posisi strategis dan memiliki pengaruh besar dalam lanskap keagamaan serta pemerintahan. 
Namun belakangan, publik menilai langkah keduanya kerap memantik polemik dan dianggap tidak sejalan dengan sensitivitas mayoritas umat Islam di Indonesia.

Di mata sebagian pengamat dan kelompok masyarakat muslim, sepak terjang dua tokoh ini tampak “setali tiga uang”, bergerak dalam pola yang dianggap kurang peka terhadap aspirasi umat, bahkan dinilai menimbulkan luka kolektif.


Staquf: Jejak Kontroversi dari Ketua PBNU hingga Isu Kedekatan dengan Zionisme 

Sebagai Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf menempati posisi strategis dalam organisasi Islam terbesar di Indonesia. 
Namun, posisinya yang sentral justru membawa sorotan besar terhadap setiap langkah dan ucapannya.

Salah satu kontroversi yang terus melekat adalah pertemuannya dengan PM Israel Benjamin Netanyahu, yang oleh sebagian kalangan dinilai bertentangan dengan sikap umum umat Islam Indonesia yang pro-Palestina dan anti-kolonialisme. 
Bagi kelompok-kelompok seperti Muhammadiyah, FPI, dan gerakan 212 yang secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, momen tersebut dianggap sebagai pukulan simbolik yang menyakitkan.

Kini, Staquf kembali diterpa isu panas. Di internal PBNU, mencuat kabar adanya desakan dari sejumlah tokoh dan pengurus agar dirinya dievaluasi atau bahkan diberhentikan dari jabatan Ketua Umum. 
Beberapa problem yang dikaitkan dengannya meliputi:

  • polemik internal organisasi,
  • dugaan keterhubungan dengan jaringan internasional yang kontroversial (isu Zionisme),
  • serta perbincangan publik tentang tata kelola keuangan yang memunculkan spekulasi liar, termasuk dugaan TPPU.

Perlu digarisbawahi bahwa berbagai tudingan tersebut belum terbukti secara hukum dan masih berada pada ranah polemik internal serta persepsi publik. 
Namun riuhnya isu ini menandakan besarnya kegelisahan di tubuh umat.


Yaqut: Dari Analogi Adzan, Anjing hingga Sorotan Kasus Dana Haji 

Sementara sang adik, Yaqut Cholil Qoumas, yang sempat menjabat sebagai Menteri Agama, menghadapi perjalanan kontroversialnya sendiri.

Pernyataannya analogi suara adzan dengan suara gonggongan anjing pernah memicu kegaduhan nasional. 
Bagi banyak umat Islam, analogi tersebut dianggap tidak etis dan merendahkan syiar agama. 
Bahkan Yaqut sempat dilaporkan ke aparat penegak hukum akibat pernyataannya yang dianggap menyinggung umat.

Kini, namanya kembali mencuat setelah pemberitaan yang menyinggung bahwa ia menjadi sorotan KPK dalam kasus dugaan penyimpangan Dana Haji. 
Publik memperbincangkan absennya Yaqut dari ruang publik selama lebih dari satu tahun, yang oleh sebagian kalangan diasosiasikan sebagai “menghindari sorotan”.

Seperti halnya isu terhadap Staquf, berbagai pemberitaan mengenai Yaqut juga belum mendapatkan kepastian hukum final, sehingga tetap berada dalam ranah dugaan dan investigasi awal. 
Namun persepsi publik sudah terbentuk, dan persepsi itu kerap bekerja lebih cepat daripada hukum.


Dua Figur, Satu Narasi Kontroversi? 

Jika disandingkan, perjalanan karier dan polemik kedua kakak beradik ini terlihat berjalan paralel. Publik menilai keduanya:

  • kurang sensitif terhadap isu-isu keumatan,
  • kerap mengambil langkah yang dianggap tidak selaras dengan aspirasi mayoritas muslim Indonesia,
  • dan menghadapi kritik tajam atas pernyataan maupun tindakan yang dianggap problematis.

Dalam perspektif sebagian masyarakat, track record keduanya menghadirkan citra yang anomali untuk sosok yang berada di posisi pemimpin umat maupun pejabat publik. 
Persepsi tersebut memunculkan anggapan bahwa perilaku mereka, baik Staquf maupun Yaqut, seolah “setali tiga uang”, menciptakan jarak emosional antara mereka dan basis umat yang seharusnya mereka layani.

Meski demikian, dalam asas keadilan, setiap tudingan memerlukan verifikasi hukum. 
Pun demikian, dinamika persepsi publik tak dapat dihindari sebagai konsekuensi kepemimpinan yang beroperasi dalam ruang publik yang demokratis dan kritis.


Kontroversi yang menyelimuti Staquf dan Yaqut menunjukkan satu hal: 
bahwa figur publik, terutama yang memegang posisi keagamaan atau pemerintahan, membutuhkan sensitivitas tinggi, kehati-hatian, dan kesadaran akan besarnya dampak setiap langkah mereka.


Kepercayaan umat adalah aset yang rapuh. Sekali retak, sulit untuk pulih. 
Polemik terhadap dua tokoh ini adalah refleksi dari kegelisahan sebagian masyarakat muslim Indonesia dan sekaligus menjadi catatan penting bagi para pemimpin di masa mendatang.


Oleh: Damai Hari Lubis
Pengamat Kebijakan Umum Hukum dan Politik


(as)
#KontroversiStaquf #KontroversiYaqut #OpiniIslam #PBNU #IsuUmat