Fatahillah313, Solo, 2025 - Di bawah langit malam yang dipenuhi lantunan selawat dan harumnya bunga mawar, ribuan jamaah dari berbagai penjuru negeri memadati pelataran Masjid Riyadh, Solo.
Malam itu bukan sekadar haul.
Ia adalah perjumpaan rohani lintas abad, antara para pencinta, para penuntut ilmu, dan para pewaris cahaya.
Dalam suasana khidmat itu, Anies Rasyid Baswedan tampil menyampaikan sambutan yang begitu menyentuh, puitis, dan mendalam, di hadapan ulama besar dunia, Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, serta para habaib dan zuriah mulia Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, sang shahibul haul.
Dalam suasana khidmat itu, Anies Rasyid Baswedan tampil menyampaikan sambutan yang begitu menyentuh, puitis, dan mendalam, di hadapan ulama besar dunia, Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, serta para habaib dan zuriah mulia Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, sang shahibul haul.
Segala Puji bagi Allah yang Menanamkan Cinta di Hati Para Kekasih-Nya
Anies membuka sambutannya dengan salam dan ayat penuh makna:
Disambut lantunan “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” dari ribuan jamaah, suasana seketika larut dalam keharuan.
Dengan nada lirih namun penuh keyakinan, Anies melanjutkan,
Kata-katanya mengalir seperti dzikir yang hidup, menggambarkan perjalanan spiritual para kekasih Allah dari lembah Qasam di Hadramaut hingga menembus batas ruang dan waktu ke tanah Jawa, ke Kota Solo, tempat Haul Akbar Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi digelar setiap tahun.
Dari Hadramaut ke Solo: Cahaya yang Tak Pernah Padam
Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bilhuda wa dinil haq liyuzhirahu ‘alad-dīni kullihi wa kafā billāhi syahīdā.
Disambut lantunan “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” dari ribuan jamaah, suasana seketika larut dalam keharuan.
Dengan nada lirih namun penuh keyakinan, Anies melanjutkan,
Segala puji bagi Allah yang menanamkan cinta di hati para kekasih-Nya. Yang menjadikan dari cinta itu jalan menuju cahaya...
Kata-katanya mengalir seperti dzikir yang hidup, menggambarkan perjalanan spiritual para kekasih Allah dari lembah Qasam di Hadramaut hingga menembus batas ruang dan waktu ke tanah Jawa, ke Kota Solo, tempat Haul Akbar Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi digelar setiap tahun.
Dari Hadramaut ke Solo: Cahaya yang Tak Pernah Padam
Dari Sewun yang jauh, ia datang menebar rahmat, menanamkan akhlak, menumbuhkan cinta. Ia tidak datang dengan kapal dagang, tapi datang dengan bahtera ilmu dan kasih.
Begitu salah satu bait yang dibacakan Anies dari catatan yang ia tulis spontan di tengah majelis.
Tak disiapkan jauh hari, katanya, hanya ditulis dari rasa yang muncul di tengah lautan cinta umat kepada Habib Ali.
Sambutan itu berubah menjadi puisi ruhani yang membuat ribuan jamaah meneteskan air mata.
Sambutan itu berubah menjadi puisi ruhani yang membuat ribuan jamaah meneteskan air mata.
Ia menyebut bahwa jarak 7.200 kilometer dari Hadramaut ke Solo kini terasa sekejap, karena cinta tidak mengenal ruang, dan keikhlasan tidak tunduk pada waktu.
Habib Ali: Mata Air Kasih yang Tak Pernah Surut
Mengapa cahaya tak meredup? Karena Allah tidak pernah memadamkan pelita yang dinyalakan dengan ikhlas sebagai bahan bakarnya.
Habib Ali: Mata Air Kasih yang Tak Pernah Surut
Anies melukiskan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi sebagai “mata air kasih yang tak pernah surut meski zaman berganti.”
Beliau, lanjut Anies, tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan akhlak.
Ribath yang didirikan Habib Ali di Sewun, Hadramaut, kini menjadi taman cahaya yang sinarnya menembus hingga ke Solo.
Beliau, lanjut Anies, tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan akhlak.
Beliau mendidik dengan kelembutan, menuntun dengan kasih, mengajarkan bahwa ilmu sejati bukan untuk meninggi, tapi untuk merendahkan hati.
Ribath yang didirikan Habib Ali di Sewun, Hadramaut, kini menjadi taman cahaya yang sinarnya menembus hingga ke Solo.
Dan malam itu, di bawah temaram lampu dan zikir yang bergema, Anies menyebut para zuriah Habib Ali sebagai penjaga taman cinta itu.
Doa dan Cinta: Menjadi Pengikut yang Meneladani
Tanpa mereka, tak akan ada haul yang seagung dan sehikmat ini. Tanpa mereka yang tulus menuntun umat, cahaya ini tak akan sebesar ini terpancar dari Solo ke seluruh dunia.
Doa dan Cinta: Menjadi Pengikut yang Meneladani
Menutup sambutannya, Anies memanjatkan doa dengan suara bergetar:
Ribuan jamaah mengaminkan. Suara “Āmīn... Allāhumma Āmīn...” menggema menembus langit malam Solo.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami cinta seperti cinta mereka, ikhlas seperti ikhlas mereka, lembut seperti lembutnya hati mereka. Jadikan kami pengikut yang meneladani, bukan hanya pengikut yang memuji.
Ribuan jamaah mengaminkan. Suara “Āmīn... Allāhumma Āmīn...” menggema menembus langit malam Solo.
Sambutan itu tak sekadar kata-kata; ia menjelma menjadi zikir yang hidup, menjadi tali cinta antara masa lalu dan masa kini, dari Habib Ali ke Habib Umar, dari Hadramaut ke Tanah Jawa, dari ilmu menuju cahaya.
“Cinta Itu Tidak Pernah Padam”
Haul Solo 2025 kembali menjadi bukti bahwa agama tidak hanya diwariskan melalui kitab, tapi juga melalui cinta dan teladan.
Dan malam itu, Anies Baswedan, bukan sebagai politisi, melainkan sebagai seorang murid, menunjukkan bagaimana bahasa bisa menjadi doa, dan doa bisa menjadi jembatan cinta menuju Rasulullah ﷺ.
Haul bukan sekadar mengenang kematian, melainkan merayakan kehidupan yang abadi dalam amal dan ilmu.
Haul bukan sekadar mengenang kematian, melainkan merayakan kehidupan yang abadi dalam amal dan ilmu.
Dari Sewun ke Solo, dari Habib Ali ke Habib Umar, dari guru ke murid, cahaya itu terus menyala. Dan seperti kata Anies:
(as)
#AniesBaswedan #HabibUmarBinHafidz #HabibAliAlHabsyi #HaulSolo2025 #MasjidRiyadh #RibatSewun #CintaRasulullah #ZuriatHabibAli #CahayaHadramaut #MajelisCinta #IslamRahmatanLilAlamin #AkhlakDanIlmu
Habib Ali datang bukan untuk dikenal, tapi agar kita belajar bagaimana mencintai dengan amal.
(as)
#AniesBaswedan #HabibUmarBinHafidz #HabibAliAlHabsyi #HaulSolo2025 #MasjidRiyadh #RibatSewun #CintaRasulullah #ZuriatHabibAli #CahayaHadramaut #MajelisCinta #IslamRahmatanLilAlamin #AkhlakDanIlmu

