Kesederhanaan dalam Beribadah




Kajian dari Kitab Riyadhus Shalihin

Ust. Syamsuddin, Lc.
Jihad Sore — Masjid Rabiatul Adawiyah
27 September 2026

Cileungsi — Islam tidak pernah hadir untuk mempersulit kehidupan manusia. Sebaliknya, Islam datang membawa jalan keselamatan, ketenangan, kebahagiaan, serta keseimbangan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Pesan tersebut menjadi salah satu pokok kajian “Kesederhanaan dalam Beribadah” yang disampaikan Ust. Syamsuddin, Lc. dalam kegiatan Jihad Sore di Masjid Rabiatul Adawiyah, Ahad, 27 September 2026, dengan merujuk pada pembahasan dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi.

Kajian diawali dengan pembacaan dan penghayatan Surat Thaha ayat 1:

طه

“Thaha.”

Makna huruf-huruf muqatha'ah seperti Thaha merupakan bagian dari perkara yang hakikat maknanya tidak diketahui secara pasti oleh manusia. Sebagian ulama memiliki penafsiran yang berbeda mengenai maknanya. Ada pula yang mengaitkannya dengan panggilan kepada Rasulullah ï·º, sebagaimana terdapat pembahasan serupa mengenai Ya Sin.

Namun, pesan besar yang dapat direnungkan dari rangkaian ayat Surat Thaha adalah bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan untuk menjadikan manusia hidup dalam kesulitan.

Allah SWT berfirman:

Ù…َا Ø£َÙ†ْزَÙ„ْÙ†َا عَÙ„َÙŠْÙƒَ الْÙ‚ُرْآنَ Ù„ِتَØ´ْÙ‚َÙ‰ٰ

“Kami tidak menurunkan Al-Qur'an kepadamu agar engkau menjadi susah.”
(QS. Thaha: 2)

Ayat ini memberikan ketenangan yang luar biasa. Al-Qur'an bukanlah beban yang menjadikan manusia sengsara. Syariat bukanlah jalan untuk membuat manusia kehilangan kebahagiaan. Justru melalui Islam, Allah memberikan petunjuk agar manusia dapat menjalani kehidupan dengan benar, seimbang, dan memperoleh keselamatan dunia serta akhirat.

Islam Mengajarkan Kemudahan, Bukan Kemalasan

Prinsip kemudahan dalam Islam juga sangat jelas terlihat dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, terutama ketika Allah menjelaskan tentang kewajiban puasa Ramadan:

ÙŠُرِيدُ اللَّÙ‡ُ بِÙƒُÙ…ُ الْÙŠُسْرَ ÙˆَÙ„َا ÙŠُرِيدُ بِÙƒُÙ…ُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

Ayat tersebut menjadi salah satu kaidah penting dalam memahami ajaran Islam.

Namun, kemudahan bukan berarti seseorang boleh memilih ibadah sesuka hatinya. Kemudahan dalam syariat tetap berada dalam koridor ketaatan kepada Allah.

Karena itu, dalam beribadah kita diajarkan untuk mengenali kemampuan diri, menjaga keseimbangan, dan tidak memaksakan diri hingga akhirnya berhenti sama sekali.

Beribadahlah Sesuai Kemampuan

Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin membawakan sejumlah hadis yang mengajarkan tentang keseimbangan dalam beribadah.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, terdapat kisah tentang seorang perempuan yang datang kepada Rasulullah ï·º. Ia dikenal sebagai seseorang yang memiliki semangat dalam beribadah.

Rasulullah ï·º kemudian mengajarkan agar seseorang melakukan amalan sesuai dengan kemampuannya.

Pesannya sederhana, tetapi sangat dalam:

Jangan mengejar banyaknya ibadah sampai kehilangan kemampuan untuk istiqamah.

Sebab, ibadah bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita lakukan hari ini, tetapi juga tentang apakah kita mampu mempertahankannya dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah ï·º mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.

Di sinilah letak keindahan istiqamah.

Shalat Tahajud dua rakaat yang dilakukan setiap malam, misalnya, bisa menjadi lebih bermakna daripada semangat beribadah yang sangat besar tetapi hanya dilakukan sesekali kemudian ditinggalkan.

Sedikit, tetapi terus-menerus.

Sederhana, tetapi istiqamah.

Tidak banyak terlihat manusia, tetapi dekat di hadapan Allah.

Rasulullah ï·º Mengajarkan Keseimbangan

Rasulullah ï·º juga memberikan teladan bahwa kehidupan seorang Muslim tidak harus diisi dengan ibadah ritual sepanjang waktu hingga melupakan kebutuhan manusiawinya.

Beliau adalah manusia yang paling bertakwa kepada Allah, tetapi beliau tetap makan, minum, beristirahat, menikah, bermuamalah, dan menjalani kehidupan sebagaimana manusia pada umumnya.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ï·º menjelaskan bahwa beliau berpuasa dan berbuka, melaksanakan shalat dan beristirahat, serta menikah.

Pesan yang hendak disampaikan adalah bahwa kesempurnaan takwa bukan berarti meninggalkan seluruh sisi kehidupan dunia.

Islam justru mengajarkan keseimbangan.

Ada waktu untuk beribadah.

Ada waktu untuk bekerja.

Ada waktu untuk keluarga.

Ada waktu untuk beristirahat.

Semuanya dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan berada dalam batas-batas yang diridhai Allah.

Tidak Semua Amalan Rasulullah Harus Dilakukan dengan Cara yang Sama

Rasulullah ï·º adalah teladan terbaik bagi umat manusia. Namun, kemampuan setiap orang berbeda-beda.

Karena itu, jangan sampai seseorang merasa gagal hanya karena tidak mampu melakukan ibadah sebanyak orang lain.

Jangan pula merasa lebih baik hanya karena ibadah kita terlihat lebih banyak.

Yang paling penting adalah ikhlas, benar caranya, sesuai kemampuan, dan istiqamah.

Allah tidak meminta manusia menjadi orang lain.

Allah meminta kita menjadi hamba yang terbaik sesuai kemampuan yang telah diberikan-Nya.

Di sinilah konsep tawakal dan istiqamah menemukan tempatnya.

Seorang Muslim berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Ia tidak beribadah karena ingin dipuji.

Ia tidak mengejar kesalehan hanya untuk mendapatkan pengakuan manusia.

Ia beribadah karena menyadari bahwa dirinya adalah hamba, sedangkan Allah adalah Rabb yang memiliki seluruh kebesaran dan kekuasaan.

Jangan Sampai Semangat Beribadah Membuat Kita Berhenti Beribadah

Ada pelajaran penting yang patut kita renungkan.

Terkadang seseorang begitu bersemangat memperbanyak ibadah. Hari ini ia melakukan banyak amalan, tetapi karena terlalu berat, beberapa hari kemudian semuanya ditinggalkan.

Padahal, Islam mengajarkan konsistensi.

Lebih baik membangun kebiasaan kecil yang terus hidup daripada membuat target besar yang akhirnya membuat kita menyerah.

Satu halaman Al-Qur'an setiap hari.

Dua rakaat Tahajud setiap malam.

Dzikir setelah shalat.

Sedekah sesuai kemampuan.

Membantu keluarga.

Menjaga lisan.

Memaafkan kesalahan orang lain.

Semua itu adalah jalan menuju kebaikan.

Sebab, ibadah tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar di mata manusia. Terkadang amalan yang sederhana justru menjadi sangat bernilai ketika dilakukan dengan ikhlas dan terus-menerus.

Penutup

Kajian Jihad Sore kali ini mengingatkan kita bahwa Islam adalah agama yang membawa kemudahan, bukan kesulitan.

Allah tidak meminta kita menjadi manusia yang sempurna dalam satu malam.

Allah mengajarkan kita untuk berjalan menuju-Nya setahap demi setahap.

Tidak perlu memaksakan diri hingga kelelahan.

Tidak perlu pula meremehkan ibadah yang kecil.

Mulailah dari yang mampu kita lakukan. Lakukan dengan ikhlas. Kemudian pertahankan dengan istiqamah.

Karena boleh jadi, dua rakaat yang kita lakukan dengan konsisten setiap malam, satu lembar Al-Qur'an yang kita baca setiap hari, atau satu kebaikan kecil yang kita lakukan secara diam-diam, justru menjadi amalan yang sangat berarti di hadapan Allah.

Sedikit tetapi istiqamah.
Sederhana tetapi ikhlas.
Tidak banyak dipuji manusia, tetapi dicintai Allah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqamah dalam kebaikan, mampu beribadah sesuai tuntunan dan kemampuan, serta termasuk orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

(HE