Muhasabah, Muraqabah, dan Mujahadah: Bekal Menjaga Kesucian Jiwa Menuju Ridha Allah

 


Cileungsi – Kajian rutin Kitab Minhajul Muslim yang digelar setiap Ahad malam Senin ba'da Maghrib di Masjid Rabiatul Adawiyah kembali mengingatkan kaum Muslimin akan pentingnya menjaga kebersihan hati dan kesucian jiwa. Kajian yang disampaikan Ustadz Kemas M. Hadi, Lc. mengajak jamaah untuk senantiasa memperbaiki diri melalui muhasabah, muraqabah, dan mujahadah.
Mengawali kajian, beliau mengajak seluruh jamaah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala yang masih melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan menghadiri majelis ilmu. Shalawat serta salam juga dipanjatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan terbaik bagi seluruh umat manusia.
Ustadz Kemas mengingatkan bahwa menghadiri majelis ilmu bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi merupakan ibadah yang mendatangkan rahmat Allah. Majelis ilmu adalah tempat berkumpulnya para malaikat dan menjadi sebab turunnya ketenangan bagi orang-orang yang hadir dengan niat ikhlas.
Dalam pembahasan Kitab Minhajul Muslim, beliau menjelaskan bahwa setiap manusia diciptakan dengan dua kecenderungan, yaitu potensi menuju ketakwaan dan potensi mengikuti hawa nafsu. Allah telah menjelaskan bahwa beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan merugilah orang yang mengotorinya.
Beliau juga mengingatkan sabda Rasulullah ﷺ bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Lingkungan dan pendidikanlah yang kemudian membentuk jalan hidup seseorang. Karena itu, setiap Muslim wajib menjaga kebersihan hati melalui taubat dan muhasabah.
Muhasabah berarti mengoreksi diri sebelum datang hari perhitungan. Seorang mukmin hendaknya mengevaluasi amalnya setiap hari, memohon ampun atas dosa, dan memperbanyak amal saleh sebagai penutup kekhilafan.
Selain muhasabah, seorang hamba harus memiliki sifat muraqabah, yakni selalu merasa diawasi Allah. Ustadz Kemas mengutip Hadis Jibril tentang ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Allah senantiasa melihat setiap gerak, ucapan, dan niat dalam hati.
Nilai muraqabah tergambar dalam kisah penggembala kambing pada masa Sayyidina Umar bin Khattab. Saat diminta menjual kambing majikannya secara diam-diam, ia menjawab, "Lalu di mana Allah?" Kalimat sederhana itu menjadi bukti bahwa keimanan yang hidup akan mencegah seseorang berbuat khianat meski tidak ada manusia yang menyaksikan.
Beliau juga mengangkat kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam yang menolak godaan Zulaikha karena takut kepada Allah Yang Maha Melihat. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa rasa malu kepada Allah harus lebih besar daripada rasa malu kepada manusia.
Kajian kemudian berlanjut pada pembahasan mujahadah, yaitu perjuangan melawan hawa nafsu. Menurut beliau, musuh terbesar manusia adalah nafsunya sendiri. Banyak orang tergelincir karena tidak mampu mengendalikan godaan harta, tahta, dan syahwat.
Untuk menguatkan jiwa, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah sunnah seperti qiyamul lail, shalat tahajud, puasa sunnah, dzikir, dan tilawah Al-Qur'an. Ibadah-ibadah inilah yang menjadi benteng hati agar tetap istiqamah di jalan Allah.
Menjelang akhir kajian, Ustadz Kemas mengajak jamaah agar senantiasa memperbanyak taubat, menutup setiap dosa dengan amal saleh, serta terus memohon kepada Allah agar dikaruniai hati yang bersih, jiwa yang bertakwa, dan akhir kehidupan yang husnul khatimah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang selalu bermuhasabah, merasa diawasi-Nya dalam setiap keadaan, serta mampu berjihad melawan hawa nafsu hingga kembali kepada-Nya dengan hati yang tenang (nafsul muthmainnah). Aamiin.