Jusuf Kalla: Indonesia Harus Memihak Iran karena Pihak yang Diserang, Jangan Netral

Fatahillah313, Jakarta - Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, suara dari tokoh senior Indonesia kembali mengemuka. 
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, menilai bahwa Indonesia tidak seharusnya bersikap netral dalam konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Menurut Kalla, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk menunjukkan keberpihakan kepada pihak yang menjadi korban serangan.

Pernyataan tersebut disampaikan Kalla usai kegiatan buka puasa bersama dan shalat tarawih dengan pengurus serta anggota Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di kediamannya di Jakarta Selatan pada Jumat (6/3/2026).


Netralitas yang Dipertanyakan 

Dalam pandangan Kalla, netralitas Indonesia dalam konflik yang jelas memperlihatkan adanya pihak yang diserang merupakan sikap yang kurang tepat. 
Ia menilai bahwa logika keadilan seharusnya menjadi dasar sikap politik luar negeri Indonesia.

Mesti ada itu keberpihakan. 
Masa kita berpihak ke Israel, masa kita berpihak kepada Amerika yang menyerang. Logikanya kita harus berpihak dong kepada negara Iran itu,
ujar Kalla.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa menurutnya posisi moral Indonesia seharusnya berpihak kepada negara yang menjadi korban serangan militer. 
Sikap ini, kata Kalla, bukan semata-mata persoalan politik praktis, melainkan juga soal prinsip keadilan dalam hubungan internasional.

Dalam konteks ini, Iran dipandang sebagai pihak yang diserang dalam konflik tersebut. 
Oleh karena itu, menurut Kalla, Indonesia seharusnya menunjukkan dukungan diplomatik kepada negara tersebut.


Tanggung Jawab Moral Negara Muslim Terbesar 

Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki peran simbolik dan moral di dunia Islam. 
Kalla menilai posisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari sikap politik luar negeri Indonesia.

Menurutnya, dunia internasional, terutama negara-negara di Asia dan dunia Islam, memperhatikan bagaimana Indonesia merespons konflik yang melibatkan negara Muslim.
Harus ada keberpihakan kepada negara yang diserang, negara yang teraniaya. 
Harus kita punya sikap,
tegasnya.

Dalam perspektif ini, Kalla memandang bahwa sikap netral berpotensi menimbulkan kesan bahwa Indonesia tidak memiliki komitmen kuat terhadap prinsip keadilan global.


Dampak Diplomasi Jika Indonesia Tidak Bersikap 

Kalla juga menyoroti dimensi diplomasi yang lebih luas dari sikap Indonesia. 
Ia mengingatkan bahwa tidak adanya sikap tegas dalam konflik internasional dapat berdampak pada hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara lain.

Menurutnya, sikap politik luar negeri tidak hanya berkaitan dengan prinsip moral, tetapi juga memengaruhi kerja sama strategis antarnegara.
Kalau tidak punya sikap, kita kehilangan diplomasi kerja sama dengan negara-negara Asia, negara-negara Islam sebagai penduduk Islam terbesar,
kata Kalla.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa menurutnya posisi Indonesia dalam konflik global juga berkaitan dengan kepemimpinan moral di kawasan Asia dan dunia Islam.

Sebagai negara besar dengan pengaruh politik dan ekonomi yang signifikan di kawasan, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam membangun solidaritas antarnegara Muslim.


Penyelesaian Konflik Melalui Forum Internasional 

Meski menekankan perlunya keberpihakan terhadap pihak yang diserang, Kalla tetap menegaskan bahwa penyelesaian konflik internasional seharusnya dilakukan melalui jalur diplomasi dan forum global.

Ia menilai bahwa konflik bersenjata tidak pernah menjadi solusi jangka panjang. Sebaliknya, penyelesaian damai melalui lembaga internasional menjadi jalan yang lebih konstruktif.

Forum-forum internasional, menurut Kalla, memiliki peran penting dalam menciptakan dialog, meredakan ketegangan, serta mencari jalan keluar yang adil bagi semua pihak.

Pendekatan diplomatik semacam ini juga selaras dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang selama ini dikenal dengan konsep bebas aktif,, yakni aktif berperan dalam menciptakan perdamaian dunia tanpa terikat pada blok kekuatan tertentu.


Indonesia di Persimpangan Sikap Global 

Pernyataan Jusuf Kalla memunculkan kembali perdebatan lama mengenai posisi Indonesia dalam konflik global: 
Apakah harus tetap netral atau menunjukkan keberpihakan pada situasi tertentu.

Di satu sisi, prinsip bebas aktif selama ini mendorong Indonesia untuk tidak terjebak dalam blok politik global. 
Namun di sisi lain, ada pandangan bahwa prinsip tersebut tetap memungkinkan Indonesia untuk bersikap tegas ketika terjadi ketidakadilan internasional.

Pandangan Kalla merefleksikan pendekatan kedua, bahwa netralitas tidak boleh berarti diam ketika terjadi serangan terhadap suatu negara.

Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks, diskursus ini menunjukkan bahwa peran Indonesia sebagai kekuatan moral di dunia internasional masih terus diperdebatkan.


Pernyataan Jusuf Kalla menyoroti dilema klasik dalam diplomasi Indonesia: 
Antara mempertahankan netralitas atau menunjukkan keberpihakan terhadap pihak yang dianggap menjadi korban.


Bagi Kalla, Indonesia tidak seharusnya sekadar menjadi pengamat. 
Sebagai negara besar dengan pengaruh di dunia Islam, Indonesia perlu memiliki sikap yang jelas, terutama ketika terjadi konflik yang melibatkan ketidakadilan.

Namun demikian, ia tetap menegaskan bahwa penyelesaian konflik seharusnya dilakukan melalui jalur diplomasi internasional demi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.


(as)
#JusufKalla #Iran #GeopolitikDunia #DiplomasiIndonesia #KonflikGlobal #PolitikLuarNegeri #DuniaIslam #TimurTengah #IndonesiaBersikap #PerdamaianDunia