Fatahillah313, Jakarta - Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, keputusan Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace (BOP), sebuah inisiatif yang disebut-sebut digagas oleh Donald Trump, memicu perdebatan luas di ruang publik.
Salah satu suara paling kritis datang dari akademisi dan pakar hubungan internasional, Connie Rahakundini Bakrie.
Guru besar yang mengajar di Saint Petersburg State University ini menyampaikan kritik keras terhadap cara Indonesia bergabung dalam forum tersebut, baik dari sisi prosedur politik luar negeri, kesiapan nasional, hingga soal martabat negara.
Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar diplomasi biasa.
Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar diplomasi biasa.
Ini menyangkut harga diri bangsa, konsistensi politik luar negeri, dan risiko strategis bagi Indonesia.
Diplomasi yang Dinilai Terlalu Tergesa-gesa
Diplomasi yang Dinilai Terlalu Tergesa-gesa
Bagi Connie, salah satu persoalan utama dalam keputusan Indonesia bergabung dengan BOP adalah proses yang dianggap terlalu cepat dan minim transparansi.
Ia menilai publik tidak pernah diajak berdiskusi secara terbuka mengenai rencana tersebut.
Ia menilai publik tidak pernah diajak berdiskusi secara terbuka mengenai rencana tersebut.
Bahkan lembaga negara seperti DPR maupun kementerian terkait tidak pernah membahasnya secara luas di ruang publik.
Menurutnya, dalam praktik diplomasi internasional yang matang, sebuah keputusan strategis biasanya melalui tahapan panjang:
Sebagai contoh, ia membandingkan proses pembentukan blok ekonomi global seperti BRICS yang melibatkan negara-negara seperti Vladimir Putin, Xi Jinping, dan India.
Pembentukan blok tersebut melalui tahun-tahun diskusi dan persiapan sebelum akhirnya diluncurkan.
Sebaliknya, menurut Connie, keputusan masuk BOP terasa seperti pengumuman mendadak kepada publik, bukan hasil diskusi bersama sebagai bangsa.
Menurutnya, dalam praktik diplomasi internasional yang matang, sebuah keputusan strategis biasanya melalui tahapan panjang:
- perencanaan
- diskusi publik
- konsultasi politik
- simulasi kebijakan
- hingga analisis risiko
Sebagai contoh, ia membandingkan proses pembentukan blok ekonomi global seperti BRICS yang melibatkan negara-negara seperti Vladimir Putin, Xi Jinping, dan India.
Pembentukan blok tersebut melalui tahun-tahun diskusi dan persiapan sebelum akhirnya diluncurkan.
Sebaliknya, menurut Connie, keputusan masuk BOP terasa seperti pengumuman mendadak kepada publik, bukan hasil diskusi bersama sebagai bangsa.
Kita semua diberitahu, bukan diajak bicara,
ujarnya.
Kontroversi Sikap Trump terhadap Indonesia
Kontroversi Sikap Trump terhadap Indonesia
Kritik paling keras Connie muncul ketika membahas interaksi antara Presiden Indonesia Prabowo Subianto dengan Presiden AS Donald Trump.
Ia menilai ada simbolisme yang dianggap merendahkan martabat Indonesia ketika Prabowo menerima dokumen dengan map dan pena dalam sebuah momen yang dinilainya tidak setara secara protokoler.
Menurutnya, seorang kepala negara seharusnya diperlakukan sebagai mitra sejajar, bukan sekadar peserta simbolik.
Ia menilai ada simbolisme yang dianggap merendahkan martabat Indonesia ketika Prabowo menerima dokumen dengan map dan pena dalam sebuah momen yang dinilainya tidak setara secara protokoler.
Menurutnya, seorang kepala negara seharusnya diperlakukan sebagai mitra sejajar, bukan sekadar peserta simbolik.
Presiden berdiri di situ atas nama rakyat Indonesia.Memberikan map dan ballpen seolah seperti asisten itu merendahkan martabat bangsa.
Bagi Connie, persoalan ini bukan sekadar soal gestur kecil.
Dalam diplomasi internasional, simbol dan protokol memiliki makna politik yang sangat besar.
Dari “Board of Peace” ke “Board of War”?
Kekhawatiran lain yang ia soroti adalah perubahan arah BOP yang dinilai semakin menjauh dari tujuan awalnya: perdamaian.
Menurut Connie, forum tersebut awalnya diklaim untuk membantu menciptakan perdamaian di kawasan konflik, terutama terkait Gaza.
Menurut Connie, forum tersebut awalnya diklaim untuk membantu menciptakan perdamaian di kawasan konflik, terutama terkait Gaza.
Namun perkembangan geopolitik yang melibatkan Israel dan Iran membuatnya mempertanyakan konsistensi tujuan organisasi tersebut.
Ia menyebut bahwa dinamika konflik yang berkembang dapat mengubah forum tersebut menjadi alat politik baru dalam konflik global.
Konflik ini sendiri tidak bisa dilepaskan dari dinamika Timur Tengah yang melibatkan aktor-aktor seperti:
Bagi Connie, perubahan orientasi ini berbahaya bagi Indonesia.
Risiko Militer: Tentara Indonesia Bisa Terlibat
Ia menyebut bahwa dinamika konflik yang berkembang dapat mengubah forum tersebut menjadi alat politik baru dalam konflik global.
Konflik ini sendiri tidak bisa dilepaskan dari dinamika Timur Tengah yang melibatkan aktor-aktor seperti:
- Benjamin Netanyahu
- negara seperti Iran
- serta pengaruh militer dan geopolitik Amerika Serikat
Bagi Connie, perubahan orientasi ini berbahaya bagi Indonesia.
Kalau awalnya bicara perdamaian lalu berubah menjadi konflik, kenapa kita diam saja?
Risiko Militer: Tentara Indonesia Bisa Terlibat
Isu lain yang sangat ditekankan Connie adalah potensi keterlibatan militer Indonesia dalam operasi internasional yang tidak berada di bawah mandat resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Indonesia selama ini memiliki tradisi panjang mengirim pasukan penjaga perdamaian melalui misi PBB.
Indonesia selama ini memiliki tradisi panjang mengirim pasukan penjaga perdamaian melalui misi PBB.
Namun menurutnya, jika keterlibatan dilakukan di luar kerangka tersebut, maka risiko bagi pasukan Indonesia bisa jauh lebih besar.
Ia menekankan bahwa penempatan tentara di wilayah konflik bukan keputusan ringan.
Risikonya meliputi:
Menurutnya, perubahan situasi di medan konflik bisa sangat cepat.
Ia menekankan bahwa penempatan tentara di wilayah konflik bukan keputusan ringan.
Risikonya meliputi:
- keselamatan prajurit
- legitimasi operasi militer
- beban anggaran negara
- dampak diplomatik global
Menurutnya, perubahan situasi di medan konflik bisa sangat cepat.
Pasukan yang awalnya dikirim sebagai penjaga perdamaian bisa sewaktu-waktu berubah menjadi pihak yang harus terlibat dalam pertempuran.
Beban Ekonomi yang Tidak Kecil
Selain risiko militer, Connie juga menyoroti potensi beban finansial besar yang harus ditanggung Indonesia jika tetap berada dalam BOP.
Ia menyebut angka kontribusi yang bisa mencapai puluhan triliun rupiah sebagai sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan sangat serius.
Menurutnya, dana sebesar itu bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan domestik yang mendesak, seperti:
Connie bahkan menyoroti fakta bahwa masih ada guru di daerah yang menerima gaji sangat kecil.
Ia menyebut angka kontribusi yang bisa mencapai puluhan triliun rupiah sebagai sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan sangat serius.
Menurutnya, dana sebesar itu bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan domestik yang mendesak, seperti:
- pendidikan
- kesejahteraan guru
- pembangunan daerah terdampak bencana
- penguatan ekonomi nasional
Connie bahkan menyoroti fakta bahwa masih ada guru di daerah yang menerima gaji sangat kecil.
17 triliun bisa memperbaiki kehidupan guru.Kenapa harus dipakai untuk sesuatu yang belum jelas manfaatnya?
Spirit Bandung dan Politik Luar Negeri Indonesia
Sebagai akademisi hubungan internasional, Connie juga mengaitkan isu ini dengan sejarah diplomasi Indonesia yang sangat kuat.
Indonesia adalah salah satu pelopor gerakan Non-Blok, yang lahir dari semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.
Gerakan tersebut menekankan posisi negara-negara berkembang untuk tidak terseret dalam blok kekuatan besar dunia.
Semangat ini sering disebut sebagai Bandung Spirit, konsep yang masih menjadi referensi dalam diskursus geopolitik global hingga hari ini.
Konferensi bersejarah tersebut dikenal sebagai Bandung Conference.
Bagi Connie, bergabung dalam forum geopolitik yang dipimpin kekuatan besar tanpa kejelasan desain strategis bisa membuat Indonesia kehilangan identitas diplomatiknya.
“Takut Apa?”
Indonesia adalah salah satu pelopor gerakan Non-Blok, yang lahir dari semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.
Gerakan tersebut menekankan posisi negara-negara berkembang untuk tidak terseret dalam blok kekuatan besar dunia.
Semangat ini sering disebut sebagai Bandung Spirit, konsep yang masih menjadi referensi dalam diskursus geopolitik global hingga hari ini.
Konferensi bersejarah tersebut dikenal sebagai Bandung Conference.
Bagi Connie, bergabung dalam forum geopolitik yang dipimpin kekuatan besar tanpa kejelasan desain strategis bisa membuat Indonesia kehilangan identitas diplomatiknya.
“Takut Apa?”
Pertanyaan paling keras yang ia lontarkan adalah soal keberanian politik.
Ia menyinggung kemungkinan ancaman ekonomi atau tekanan diplomatik, namun menegaskan bahwa martabat negara harus menjadi prioritas utama.
Untuk memperkuat argumennya, ia merujuk pada sosok pendiri bangsa, Sukarno.
Menurutnya, Sukarno berani menghadapi berbagai tekanan global demi mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Kontroversi dan Serangan terhadap Pandangan Akademik
Connie mempertanyakan apakah Indonesia takut menghadapi tekanan internasional jika memutuskan keluar dari BOP.
Ia menyinggung kemungkinan ancaman ekonomi atau tekanan diplomatik, namun menegaskan bahwa martabat negara harus menjadi prioritas utama.
Untuk memperkuat argumennya, ia merujuk pada sosok pendiri bangsa, Sukarno.
Menurutnya, Sukarno berani menghadapi berbagai tekanan global demi mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Kalau untuk negara, seorang pemimpin harus siap lahir batin.
Kontroversi dan Serangan terhadap Pandangan Akademik
Kritik Connie terhadap BOP juga memicu reaksi keras di media sosial dan ruang publik.
Salah satu peristiwa yang mencuat adalah penghapusan konten wawancara yang ia lakukan dengan Denny Sumargo.
Konten tersebut kemudian memicu gelombang kritik, termasuk tuduhan penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Connie mengakui bahwa ada satu informasi yang ternyata tidak valid dan ia segera mengklarifikasinya.
Namun ia mempertanyakan mengapa kesalahan kecil tersebut digunakan untuk mendiskreditkan keseluruhan pandangannya.
Salah satu peristiwa yang mencuat adalah penghapusan konten wawancara yang ia lakukan dengan Denny Sumargo.
Konten tersebut kemudian memicu gelombang kritik, termasuk tuduhan penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Connie mengakui bahwa ada satu informasi yang ternyata tidak valid dan ia segera mengklarifikasinya.
Namun ia mempertanyakan mengapa kesalahan kecil tersebut digunakan untuk mendiskreditkan keseluruhan pandangannya.
Dari 100 menit pembicaraan, hanya tiga menit yang keliru.Tapi yang diserang seluruhnya.
Indonesia di Persimpangan Geopolitik
Perdebatan mengenai BOP menunjukkan satu hal penting:
Indonesia sedang berada di titik krusial dalam politik luar negeri global.
Dunia saat ini sedang mengalami pergeseran dari sistem unipolar menuju multipolar, di mana kekuatan global semakin tersebar.
Dalam situasi seperti ini, negara seperti Indonesia harus memainkan diplomasi dengan sangat hati-hati.
Pertanyaan besarnya adalah:
- Apakah Indonesia harus masuk langsung ke forum geopolitik baru?
- Ataukah tetap menjaga jarak untuk mempertahankan independensi diplomasi?
Bagi Connie Rahakundini, jawabannya jelas:
Indonesia harus berani menjaga martabat dan kepentingan nasional, bahkan jika itu berarti mengambil posisi berbeda dari kekuatan besar dunia.
#Geopolitik #DiplomasiIndonesia #BoardOfPeace #ConnieRahakundini #PolitikLuarNegeri #PrabowoSubianto #Trump #BandungSpirit #NonBlok #GeopolitikDunia

