Bukber & Kajian GMJ: Buya Fikri: Politik sebagai Jalan Perjuangan Islam

Buya Fikri: “Umat Islam Tidak Boleh Meninggalkan Politik”

Fatahillah313, Ppetamburan - Dalam suasana kebersamaan Ramadhan, acara Buka Bersama dan Kajian menghadirkan diskusi yang menggugah tentang hubungan Islam dan politik. 

Dalam kajian tersebut, Buya Fikri menyampaikan pandangan tajam mengenai pentingnya politik dalam perjuangan umat Islam.

Menurutnya, kemenangan dan kejayaan Islam tidak hanya ditentukan oleh ibadah individual atau semangat spiritual semata. 
Ada dimensi lain yang sering diabaikan: 
Perjuangan di ruang kekuasaan dan politik.
Kajian ini mengajak umat untuk melihat kembali bagaimana Al-Qur’an memandang kepemimpinan, kekuasaan, dan tanggung jawab sosial.


Islam dan Visi Kemenangan Peradaban 

Video pendukung:
Buya Fikri membuka kajiannya dengan menegaskan bahwa Islam memiliki visi besar dalam sejarah peradaban manusia.

Islam, menurutnya, bukan sekadar agama yang mengatur ibadah ritual, tetapi juga sistem kehidupan yang membawa misi keadilan dan kepemimpinan.

Ia menjelaskan bahwa dalam perjalanan sejarahnya, Islam memiliki cita-cita untuk menghadirkan peradaban yang adil dan membawa rahmat bagi seluruh manusia.

Namun kemenangan itu tidak datang dengan sendirinya.

Menurutnya, kejayaan Islam membutuhkan perjuangan yang berlapis-lapis, tidak hanya di level spiritual tetapi juga dalam aspek sosial, budaya, dan politik.
Perjuangan itu bertingkat-tingkat,
ungkapnya. 
Tidak cukup hanya dengan retorika atau simbol. 
Harus ada upaya nyata yang dilakukan secara strategis.


Politik Bukan Sesuatu yang Kotor 

Salah satu isu yang dibahas secara tegas dalam kajian ini adalah pandangan yang menyebutkan bahwa umat Islam sebaiknya menjauhi politik.

Pandangan ini sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya dengan alasan bahwa:

    • Politik dianggap kotor
    • Politik identik dengan perebutan kekuasaan
    • Ulama sebaiknya tidak masuk dunia politik

Menurut 
Buya Fikri, narasi semacam ini justru perlu dikritisi.

Ia menilai bahwa gagasan “jangan berpolitik” sering kali menjadi strategi pihak tertentu agar umat Islam tidak ikut menentukan arah kekuasaan.

Dengan kata lain, jika umat Islam menjauhi politik, maka ruang tersebut akan diisi oleh pihak lain yang belum tentu membawa nilai keadilan.
Ketika umat Islam diminta menjauhi politik, sementara pihak lain menguasainya, maka itu berarti umat diminta menyerahkan kekuasaan begitu saja,
jelasnya.


Strategi Mengurangi Kekuatan Politik Umat 

Buya Fikri juga menyinggung bagaimana narasi anti-politik kadang digunakan untuk melemahkan kekuatan politik umat Islam.

Menurutnya, jika umat terus didorong menjauhi politik, maka dampaknya adalah:

    • kekuatan politik umat terpecah
    • partai-partai Islam menjadi kecil
    • pengaruh umat dalam kebijakan negara melemah

Hal ini pada akhirnya membuat umat tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat luas.

Padahal dalam sistem demokrasi modern, politik adalah sarana menentukan arah kebijakan negara.

Jika umat tidak hadir dalam ruang tersebut, maka kepentingan mereka berpotensi tidak terwakili.


Kewajiban Berpolitik dalam Perspektif Al-Qur’an 

Dalam kajian ini, Buya Fikri menegaskan bahwa keterlibatan umat Islam dalam politik memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an.

Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an banyak membahas tentang:

    • keadilan
    • kepemimpinan
    • kekuasaan
    • tanggung jawab sosial

Tema-tema tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan bagaimana masyarakat dipimpin.

Menurutnya, jika kita menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an, pembahasan tentang kepemimpinan dan keadilan bahkan jauh lebih banyak dibandingkan pembahasan tentang beberapa persoalan ibadah tertentu.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam memandang kepemimpinan sebagai aspek penting dalam kehidupan umat.


Politik sebagai Instrumen Keadilan 

Bagi Buya Fikri, politik seharusnya tidak dipahami sekadar sebagai perebutan kekuasaan.
Politik dalam perspektif Islam adalah alat untuk menegakkan keadilan dan kemaslahatan masyarakat.
Karena itu, keterlibatan umat Islam dalam politik seharusnya dilandasi oleh nilai moral dan tanggung jawab.

Politik yang diwarnai oleh nilai-nilai Islam justru dapat menjadi sarana untuk:

    • melindungi masyarakat
    • memastikan keadilan hukum
    • memperjuangkan kesejahteraan rakyat
    • menjaga nilai moral dalam kehidupan publik

Dengan demikian, menjauhi politik bukanlah solusi bagi umat.
Sebaliknya, umat justru perlu hadir di dalamnya dengan integritas dan visi yang jelas.


Membangun Kesadaran Politik Umat 

Kajian ini menjadi pengingat bahwa umat Islam tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika politik.
Kesadaran politik harus dibangun dengan cara yang sehat dan beretika.

Buya Fikri menegaskan bahwa umat Islam harus mampu memadukan:

    • spiritualitas
    • intelektualitas
    • kesadaran sosial
    • tanggung jawab politik

Dengan kombinasi tersebut, umat tidak hanya kuat dalam ibadah tetapi juga mampu berkontribusi dalam membangun peradaban yang adil.

Kajian dalam acara Bukber & Kajian bersama Roy Suryo ini menjadi refleksi penting bagi umat Islam tentang hubungan antara agama dan politik.

Pesan utama yang disampaikan 
Buya Fikri cukup jelas: 
Jadikan Politik sebagai alat perjuangan, tidak boleh ditinggalkan oleh umat Islam.

Justru melalui politik, nilai-nilai keadilan yang diajarkan Islam dapat diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.

Dengan kesadaran, integritas, dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam, politik dapat menjadi salah satu jalan perjuangan untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan bagi semua.


(as)
#BukberKajian #BuyaFikriBareno #RoySuryo #PolitikIslam #KajianRamadhan #PerjuanganUmat #KeadilanDalamIslam #IslamDanPolitik #KepemimpinanIslam #TadabburAlQuran