AS-Israel Serang Iran, Pengamat Militer Connie Exit Strategy Terhormat RI Keluar dari BoP

Perang AS–Israel vs Iran dan Dilema Indonesia di BoP

Fatahillah313, Jakarta - 
Pengamat militer Connie Rahakundini menilai forum tersebut tak lagi sejalan dengan filosofi perdamaian. 
Haruskah Indonesia keluar secara terhormat, atau justru memanfaatkan posisinya untuk menekan dari dalam?


Perang yang Mengubah Peta Sikap 

Sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, lanskap geopolitik Timur Tengah kembali berguncang. 
Konflik yang awalnya dipandang sebagai eskalasi regional kini merembet menjadi perdebatan global, termasuk di Indonesia.

Dampak perang ini bukan hanya pada stabilitas kawasan, tetapi juga pada posisi Indonesia sebagai anggota Board of Peace (BoP), forum internasional yang sejak awal diklaim sebagai wadah kerja sama dan arsitektur perdamaian global.

Pertanyaannya kini menjadi sangat mendasar: 
Apakah Indonesia masih berada di tempat yang tepat?


Connie Rahakundini: “Label Tidak Menentukan Realitas” 

Pengamat militer Connie Rahakundini menilai bahwa momentum perang ini membuka ruang evaluasi serius terhadap keanggotaan Indonesia di BoP.

Menurut Connie, filosofi BoP sebagai lembaga yang mendukung perdamaian global tidak lagi selaras dengan realitas di lapangan. 
Ia menegaskan bahwa dalam studi keamanan, label tidak selalu mencerminkan fungsi.
Boleh saja namanya Board of Peace, tetapi secara de facto bisa berubah menjadi Board of War,
tegasnya.

Connie menjelaskan, ketika sebuah forum mulai terlibat dalam:

    • Operasi bersama militer
    • Integrasi komando
    • Penggunaan pangkalan untuk serangan

maka secara fungsional forum tersebut telah berubah menjadi bagian dari arsitektur perang.

Jika demikian, lanjutnya, Indonesia perlu memikirkan exit strategy, strategi keluar yang terhormat.


1. Exit Strategy: Keluar dengan Martabat 
Bagi Connie, perang yang meletus saat ini justru menjadi “pintu keluar terbaik” (the best exit door) bagi Indonesia.

Indonesia masuk ke BoP dengan semangat politik luar negeri bebas aktif, percaya bahwa forum itu akan menjadi sarana diplomasi damai. 
Namun, jika realitas menunjukkan pergeseran fungsi, maka menarik diri bukanlah langkah mundur, melainkan penegasan prinsip.
Kalau kita mengundurkan diri dengan alasan bahwa ini tidak sesuai dengan yang direncanakan, kita keluar secara terhormat,
ujarnya.

Dalam konteks diplomasi, keluar bukan berarti kalah. 
Justru bisa menjadi bentuk konsistensi terhadap jati diri bangsa.


2. Opsi Kedua: Menekan dari Dalam 
Namun dilema ini tidak sesederhana keluar atau bertahan.

Keberadaan Indonesia dalam BoP justru bisa menjadi instrumen diplomasi langsung. Indonesia dapat:

      • Menyampaikan kritik kepada Amerika Serikat dan Israel secara langsung
      • Mengingatkan kembali mandat awal BoP
      • Menekan agar agenda perdamaian Gaza dikembalikan sebagai prioritas utama

Di dalam forum, Indonesia memiliki akses komunikasi yang lebih strategis dibanding jika berada di luar.

Connie sendiri mengakui bahwa forum tersebut seharusnya tidak menjadi pembatas, melainkan ruang untuk “menegur secara langsung”.

Artinya, jika digunakan secara cerdas, BoP bisa menjadi panggung diplomasi moral Indonesia.


Gaza dan Resolusi 2803: Mandat yang Terlupakan? 

Tujuan awal BoP, menurut narasi awal pembentukannya, adalah mendorong stabilitas dan perdamaian, termasuk di Gaza. 
Dalam konteks ini, Indonesia bisa menekan agar resolusi perdamaian, termasuk yang dikenal sebagai Resolusi 2803, dikembalikan sebagai agenda utama.

Perubahan eskalasi yang begitu cepat, menurut Connie, mungkin akan memicu:
    • Resizing struktur BoP
    • “Kocok ulang” kepemimpinan
    • Reposisi agenda prioritas

Momentum ini bisa dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan daya tawar (bargaining power) dalam memperjuangkan isu Gaza.


MUI: BoP Sudah Tidak Relevan 

Desakan agar Indonesia keluar dari BoP sebelumnya telah disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia.

MUI menilai forum tersebut kehilangan relevansi karena Amerika Serikat dan Israel, yang menjadi anggota, justru menjadi aktor utama pemicu perang di Timur Tengah.

Bagi MUI, kehadiran Indonesia dalam forum yang anggotanya terlibat konflik bersenjata bertentangan dengan prinsip moral dan politik luar negeri Indonesia.


Dimensi Strategis: Bebas Aktif dalam Ujian 

Politik luar negeri Indonesia selalu berpijak pada prinsip bebas aktif:

    • Bebas menentukan sikap
    • Aktif mendorong perdamaian
    • Perang ini menjadi ujian nyata terhadap prinsip tersebut.

Jika Indonesia tetap bertahan di BoP:

    • Harus ada strategi diplomasi yang agresif dan terukur
    • Harus mampu mengubah arah forum

Jika Indonesia keluar:

    • Harus dilakukan dengan narasi yang kuat
    • Disertai argumentasi berbasis prinsip, bukan reaksi emosional

Dalam diplomasi internasional, narasi adalah kekuatan.


Momentum atau Risiko? 

Situasi ini dapat berkembang ke dua arah:

Skenario 1: Indonesia Keluar

- Menguatkan citra konsisten pada prinsip perdamaian
- Mendapat dukungan domestik
- Namun kehilangan akses langsung pada forum strategis

Skenario 2: Indonesia Bertahan

- Memiliki kanal komunikasi langsung
- Dapat melakukan tekanan diplomatik dari dalam
- Namun berisiko dianggap kompromistis

Keduanya mengandung risiko dan peluang.


Penutup: Keputusan yang Akan Dicatat Sejarah 

Perang AS–Israel terhadap Iran telah menjadi katalis yang memaksa Indonesia meninjau ulang posisinya di panggung global.

Apakah Indonesia akan memilih jalan keluar yang terhormat? 
Ataukah tetap berada di dalam dan berjuang dari ruang diplomasi?

Yang jelas, keputusan ini bukan hanya soal keanggotaan forum internasional. 
Ini adalah soal konsistensi prinsip, kredibilitas global, dan arah masa depan politik luar negeri Indonesia.

Sejarah akan mencatat pilihan tersebut.


(as)
#IndonesiaBebasAktif #BoP #DiplomasiIndonesia #PerdamaianGaza #Geopolitik2026 #ASIsraelIran #PolitikLuarNegeri