Topi Merah Tantang Rismon Debat Terbuka: Tolak Somasi, Dorong Adu Argumen Ilmiah dan Perkenalkan Teknologi AI Buatannya

Fatahillah313, Jakarta – Perdebatan mengenai analisis digital terhadap ijazah Presiden Joko Widodo kembali menjadi sorotan. 
Kali ini, sosok yang dikenal sebagai Topi Merah melontarkan tantangan terbuka kepada Rismon untuk berdiskusi secara ilmiah mengenai metodologi digital forensik yang digunakan dalam penelitian tersebut.

Namun, tantangan itu disertai satu syarat utama: 
Perdebatan harus dilakukan secara terbuka, berbasis data, dan tanpa diwarnai langkah hukum seperti somasi maupun laporan kepolisian.

Menurut Topi Merah, hingga saat ini undangan diskusi yang telah disampaikan belum memperoleh respons sebagaimana yang diharapkan.

Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah beberapa kali berusaha membuka ruang dialog, baik melalui komunikasi langsung maupun forum terbuka. 
Namun kesempatan untuk bertemu dan membahas aspek teknis secara ilmiah belum juga terwujud.
Kita berharap suatu saat bisa duduk bersama dan berdiskusi secara sehat. Yang dibahas adalah sisi teknis IT, bukan saling melapor atau membawa persoalan ke ranah hukum,
ujarnya.


Klaim Sudah Menjawab Seluruh Kritik

Topi Merah menegaskan bahwa sebagian besar kritik terhadap dirinya sebenarnya telah dijawab secara terbuka dalam sebuah forum diskusi.

Ia mengaku telah memaparkan proses analisis secara rinci, mulai dari rumus yang digunakan hingga implementasi kode pemrograman yang menurutnya mengikuti metode yang sebelumnya dipublikasikan oleh Rismon.

Menurutnya, proses tersebut dilakukan secara transparan sehingga publik dapat melihat bagaimana sebuah formula diproses dari tahap input hingga menghasilkan keluaran yang identik.
Karena rumus dan coding sudah pernah dipublikasikan, saya tinggal melakukan reproduksi hasilnya dan output yang diperoleh sama persis,
jelasnya.


Soroti Metode Digital Forensik

Meski demikian, Topi Merah mengaku menemukan sejumlah kejanggalan ketika mempelajari metode analisis yang digunakan Rismon dalam dokumen yang dikenal sebagai Jokowi White Paper.

Ia menegaskan bahwa pandangannya bersifat subjektif sebagai sesama programmer yang mengamati karya programmer lain.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penggunaan proses resizing dan teknik yang disebutnya sebagai peleburan blok piksel.

Menurutnya, proses tersebut berpotensi mengubah karakteristik asli suatu citra digital.

Ia mencontohkan analisis terhadap warna merah pada cap stempel dokumen.

Dalam presentasi yang dipelajarinya, disebutkan bahwa nilai komponen warna merah mencapai nol.

Padahal, menurut Topi Merah, apabila citra dianalisis langsung menggunakan pendekatan computer vision, komponen merah tersebut masih tetap ada meskipun nilainya sangat kecil.

Dari sisi computer vision, nilai merahnya tidak benar-benar hilang. Rendah memang, tetapi bukan nol,
katanya.

Perbedaan itulah yang menurutnya perlu dijelaskan secara teknis agar publik memahami alasan perubahan nilai tersebut.


Dinilai Mengubah Esensi Data

Topi Merah berpendapat bahwa perubahan terhadap blok-blok piksel dapat memengaruhi esensi data digital yang sedang dianalisis.

Ia menyebut proses tersebut berpotensi mengubah informasi asli citra sehingga hasil analisis dapat berbeda dibandingkan apabila data diproses tanpa modifikasi tertentu.

Karena itu, ia menilai penjelasan teknis menjadi jauh lebih penting dibandingkan saling melontarkan tudingan.

Baginya, perdebatan ilmiah harus dibangun melalui pembuktian metode, bukan melalui narasi semata.


Kenalkan Model AI Bernama IMGNet

Di luar polemik tersebut, Topi Merah juga memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan yang diklaim dikembangkannya sendiri.

Model tersebut diberi nama IMGNet, yang menurutnya merupakan singkatan dari nama pribadinya.

Ia menjelaskan bahwa inspirasi pengembangan algoritma tersebut berasal dari kajian linguistik, khususnya mengenai kemiripan struktur bahasa.

Ia mencontohkan kesamaan frasa "matur suwun" dalam bahasa Jawa dengan "hatur nuhun" dalam bahasa Sunda.

Menurutnya, kemiripan pola seperti itulah yang kemudian diterjemahkan menjadi rumus matematika dan diimplementasikan ke dalam algoritma AI.


Fokus pada Relasi Pola Lokal

Topi Merah mengatakan metode yang dikembangkannya berbeda dengan pendekatan konvensional.

Jika metode umum langsung membandingkan keseluruhan data secara global, algoritmanya justru mencari hubungan antarbagian kecil atau relasi pola lokal.

Melalui pendekatan tersebut, sistem diklaim mampu mengenali kesamaan meskipun terdapat banyak perbedaan visual.

Dalam demonstrasi yang diperlihatkan, dua foto dirinya—menggunakan kacamata dan tanpa kacamata—tetap dikenali sebagai orang yang sama.

Sistem bekerja dengan membandingkan ribuan nilai unik yang disebut sebagai representasi atau "DNA" digital dari sebuah gambar.

Setiap bagian kecil dianalisis satu per satu sebelum dihitung tingkat kecocokannya.

Selanjutnya, algoritma melakukan proses pelatihan (training) agar pola yang memiliki kemiripan semakin mendekat, sedangkan pola yang berbeda semakin dipisahkan.

Menurutnya, proses tersebut menyerupai cara manusia mengenali wajah secara bertahap.


Klaim Akurasi 96 Persen

Dalam pengujian awal, Topi Merah mengklaim model AI buatannya telah diuji terhadap sekitar 6.000 pasangan gambar.

Hasilnya, sistem menghasilkan tingkat akurasi sekitar 96 persen.

Ia mengakui angka tersebut masih berada di bawah model-model internasional yang telah dilatih menggunakan puluhan juta data.

Namun, ia menekankan bahwa model buatannya hanya menggunakan sekitar 500 ribu data pelatihan, sehingga dinilai jauh lebih efisien.

Menurutnya, efisiensi tersebut menjadi salah satu keunggulan yang layak dikembangkan lebih lanjut.


Tidak Hanya untuk Pengenalan Wajah

Topi Merah menegaskan bahwa IMGNet tidak dirancang semata-mata untuk kebutuhan pengenalan wajah.

Ia menyebut algoritma tersebut bersifat lebih universal karena bekerja berdasarkan persamaan matriks.

Ke depan, teknologi itu disebut memiliki peluang diterapkan pada berbagai bidang, termasuk bioinformatika.

Salah satu kemungkinan penerapannya adalah untuk mengukur kemiripan struktur protein yang memiliki karakter tiga dimensi.

Selain itu, algoritma tersebut juga dinilai berpotensi digunakan pada sistem identifikasi berbasis CCTV untuk mencocokkan identitas seseorang melalui analisis pola visual.
Dorong Perdebatan Berbasis Sains

Di akhir pemaparannya, Topi Merah kembali menegaskan bahwa dirinya lebih memilih ruang diskusi ilmiah dibandingkan konflik hukum.

Ia berharap perbedaan pandangan mengenai analisis digital dapat diuji melalui argumentasi, demonstrasi metode, serta pembuktian teknis yang dapat diperiksa bersama.

Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan justru akan lebih bermanfaat apabila setiap pihak bersedia membuka metodologi dan menguji hasilnya secara transparan, sehingga publik dapat menilai berdasarkan data, bukan sekadar opini.

(as)
#TopiMerah #Rismon #DebatTerbuka #DigitalForensik #ComputerVision #ArtificialIntelligence #IMGNet #FaceRecognition #TeknologiIndonesia #AIIndonesia #InovasiTeknologi #BeritaTeknologi