Harta, Anak dan Istri Perhiasan Dunia yang bisa menjadi fitnah

Fatahillah313, Sukabumi - Tidak ada manusia yang tidak menginginkan keluarga harmonis, anak-anak saleh, dan rezeki yang melimpah.
Namun Islam justru mengingatkan bahwa dua nikmat terbesar itu dapat berubah menjadi fitnah, yakni ujian yang menentukan kualitas keimanan seseorang.

Al-Qur'an tidak pernah menyebut harta, istri, dan anak semata-mata sebagai anugerah.
Semuanya juga merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Bila disikapi dengan benar, keluarga menjadi jalan menuju surga.
Sebaliknya, jika kecintaan kepada mereka mengalahkan kecintaan kepada Allah SWT, maka mereka dapat menjadi sebab kelalaian bahkan kebinasaan.


Fitnah dalam Islam Bukan Sekadar Musibah

Dalam bahasa Al-Qur'an, fitnah berarti ujian atau cobaan.

Allah SWT berfirman bahwa harta dan anak hanyalah ujian bagi manusia.
Ujian tersebut mengukur apakah seseorang tetap mendahulukan perintah Allah atau justru mengorbankan agama demi mempertahankan kenikmatan dunia.

Tidak sedikit orang yang rela meninggalkan shalat demi mengejar harta.
Ada pula yang membiarkan kemaksiatan dalam keluarganya dengan alasan kasih sayang atau takut kehilangan keharmonisan rumah tangga.

Padahal, kasih sayang yang mengabaikan syariat bukanlah bentuk cinta yang benar menurut Islam.


Ketika Istri dan Anak Menjadi Penghalang Ketaatan

Allah SWT memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Surah At-Taghabun ayat 14.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang
.



Sebagian istri dan anak dapat menjadi "musuh" bagi orang beriman.

Makna musuh di sini bukan berarti harus dibenci atau dimusuhi secara fisik, melainkan mereka dapat menjadi sebab seseorang menjauh dari jalan Allah.
Mereka bisa menghalangi seseorang untuk beribadah, menghambat amal saleh, atau mendorong kepada perbuatan yang dilarang agama.

Karena itu seorang mukmin dituntut tetap berlaku adil, sabar, serta terus membimbing keluarganya tanpa meninggalkan prinsip-prinsip agama.


Nabi Nuh AS: Ujian Terberat Seorang Kepala Keluarga

Salah satu kisah paling menyentuh dalam Al-Qur'an adalah ujian yang dialami Nabi Nuh AS.

Selama ratusan tahun beliau berdakwah mengajak kaumnya kembali kepada tauhid.
Namun ujian terbesar justru datang dari dalam rumahnya sendiri.

Menurut riwayat yang dikenal di kalangan ulama, istri Nabi Nuh AS disebut Walihah atau Waghilah.
Ia tidak beriman kepada dakwah suaminya dan bahkan memihak kaum kafir.
Ia menjadi pendukung orang-orang yang menentang dakwah Nabi Nuh.

Pengkhianatan tersebut bukanlah pengkhianatan dalam kehormatan rumah tangga, melainkan pengkhianatan terhadap risalah yang dibawa seorang nabi.

Lebih berat lagi, putra Nabi Nuh yang dikenal dengan nama Kan'an atau Yam ikut terpengaruh oleh ibunya.

Anak yang Menolak Keselamatan

Saat Allah memerintahkan Nabi Nuh membangun kapal sebagai persiapan datangnya banjir besar, beliau masih memanggil anaknya dengan penuh kasih.

Beliau mengajak Kan'an agar naik ke kapal bersama orang-orang beriman.

Namun sang anak menolak.

Ia merasa gunung yang tinggi mampu menyelamatkannya dari banjir. Kesombongan dan kekafirannya membuat ia menolak ajakan ayahnya.

Akhirnya banjir besar menenggelamkan Kan'an bersama orang-orang kafir.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa hubungan darah tidak dapat menggantikan keimanan.


Pelajaran Besar bagi Orang Tua Masa Kini

Di zaman modern, ujian keluarga hadir dalam bentuk yang berbeda.

Sebagian anak menolak shalat, enggan menutup aurat, terbiasa membuka aurat di hadapan yang bukan mahram, mengikuti gaya hidup jahiliyah, membenci orang tua, berkata kasar, hingga menganggap aturan agama sebagai sesuatu yang menghalangi kebebasan.

Sebagian pasangan juga dapat mengajak kepada gaya hidup yang jauh dari syariat.

Dalam kondisi seperti ini, Islam memerintahkan kepala keluarga untuk tetap menjalankan kewajiban membimbing dengan hikmah.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6 agar setiap mukmin menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, (dan) keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

 

Artinya, tanggung jawab seorang ayah atau suami adalah memberi pendidikan agama, mengingatkan, menasihati, menjadi teladan, serta mendoakan keluarganya.


Sampai Berapa Kali Harus Menasihati?

Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah ada batas maksimal menasihati anak atau istri yang terus membangkang?

Al-Qur'an maupun hadis tidak memberikan angka tertentu mengenai berapa kali nasihat harus disampaikan.

Yang menjadi ukuran adalah kesungguhan menunaikan kewajiban amar makruf nahi mungkar sesuai kemampuan, dilakukan dengan cara yang baik, bertahap, penuh kesabaran, dan tidak putus asa selama masih ada harapan.

Bila setelah berbagai upaya yang benar mereka tetap memilih jalan kemaksiatan, maka dosa perbuatannya menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing, bukan lagi dipikul oleh kepala keluarga (suami/ayah) yang telah menunaikan kewajibannya.


Prinsip ini sejalan dengan firman Allah bahwa seseorang tidak memikul dosa orang lain.
Namun, kelalaian orang tua dalam mendidik dan membimbing keluarganya dapat menjadi sebab pertanggungjawaban di hadapan Allah.


Ayat Lain yang Mengingatkan Tentang Ujian Keluarga

Beberapa ayat Al-Qur'an juga mengingatkan pentingnya menjaga keluarga dari fitnah dunia, antara lain:

  • Surah Al-Anfal ayat 28: harta dan anak adalah ujian.
  • Surah At-Tahrim ayat 6: perintah menjaga keluarga dari api neraka.
  • Surah Luqman ayat 13–19: teladan Luqman dalam menasihati anaknya dengan penuh hikmah.
  • Surah Thaha ayat 132: perintah menyuruh keluarga mendirikan salat dan bersabar dalam menjalankannya.

Kisah Nabi Nuh AS mengajarkan bahwa:

Keberhasilan seorang mukmin tidak diukur dari apakah seluruh anggota keluarganya mengikuti jalan kebenaran, melainkan apakah ia telah menunaikan amanah untuk membimbing mereka sesuai petunjuk Allah.

Harta, istri, dan anak adalah nikmat sekaligus ujian.
Kasih sayang kepada keluarga tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Allah SWT.
Seorang kepala keluarga wajib terus membimbing dengan ilmu, keteladanan, kesabaran, doa, dan nasihat yang baik. Apabila semua ikhtiar telah dilakukan namun mereka tetap memilih jalan yang menyimpang, maka setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya sendiri di hadapan Allah SWT.


(as)
#Islam #KeluargaIslami #NabiNuh #FitnahDunia #PendidikanAnak #TafsirAlQuran #KajianIslam #HartaDanAnak #AtTaghabun #AtTahrim #AmarMakrufNahiMungkar #DakwahIslam #MuslimFamily #NasihatIslam #Hidayah