IB-HRS: Waspada Ajakan Kudeta dari “Tukang Survei Bayaran” & Eks Napi Penipuan

Fatahillah313, Petambuan, Jakarta - Pesan keras untuk gerakan mahasiswa: 
Jaga kemurnian, tolak provokasi, dan bangun poros perjuangan yang berintegritas
Di tengah menguatnya gelombang aksi mahasiswa lintas daerah, dari isu militarisasi hingga tuntutan keadilan atas kasus kekerasan terhadap aktivis, muncul satu persoalan klasik namun krusial: absennya titik temu (focal point) yang mampu menyatukan gerakan. 
Keresahan ini disampaikan langsung oleh Ihsan, Presiden Mahasiswa Universitas Pakuan sekaligus Koordinator Isu Reformasi Hukum BEM-SI, dalam dialog terbuka dengan IB-HRS.

Alih-alih sekadar memberi dukungan normatif, IB-HRS justru melontarkan peringatan keras: 
Gerakan mahasiswa hari ini berada di titik rawan, rentan ditunggangi oleh aktor-aktor oportunis dengan rekam jejak problematik.


Krisis Persatuan: Gerakan Besar, Arah Terpecah


Ihsan menggarisbawahi realitas yang dirasakan banyak aktivis kampus:
Gerakan mahasiswa, buruh, dan elemen sipil lain memang marak, tetapi berjalan sendiri-sendiri.

Tidak ada simpul pemersatu yang kuat.


Tidak ada agenda bersama yang benar-benar menjadi poros.

Persatuan itu tidak ada… terlalu banyak kepentingan,
kira-kira begitu kegelisahan yang disampaikan.

Fenomena ini membuat gerakan kehilangan daya tekan. Energi besar di jalanan tak berbanding lurus dengan hasil politik yang konkret.


Jawaban IB-HRS: Dukung, Tapi Bersyarat Tegas

Menanggapi hal itu, IB-HRS menegaskan satu garis utama:
Setiap gerakan yang murni membela agama, bangsa, dan negara, harus didukung.


Namun ia menekankan urutan nilai:
agama → bangsa → negara.

Menurutnya, pembelaan terhadap agama akan otomatis menjaga bangsa dan negara. Sebaliknya, pembelaan atas negara belum tentu menjamin nilai moral dan keadilan.


Kasus Kekerasan Aktivis: Negara Tak Boleh Abai

Dalam konteks aksi yang akan digelar di Komnas HAM, IB-HRS menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap aktivis (Andri Yunus).

Sikapnya tegas:
    • Kekerasan terhadap aktivis harus ditolak
    • Kasus harus diusut sampai tuntas
    • Negara tidak boleh mengulang pola impunitas

Ia bahkan menyinggung preseden buruk seperti kasus KM50 yang dinilai belum menghadirkan keadilan substantif.


Mengapa FPI “Jarang Turun”? Ini Penjelasannya

Salah satu pertanyaan penting Ihsan:
mengapa FPI kini terlihat tidak seaktif dulu di jalanan?

Jawaban IB-HRS cukup strategis:
Bukan berhenti, tapi mengubah ritme perjuangan.

Menurutnya, pengalaman panjang sejak 1998 hingga pembubaran organisasi pada 2020 menjadi pelajaran mahal:
    • Gerakan bisa berjalan sendirian tanpa dukungan
    • Bisa ditinggalkan bahkan oleh kelompok sendiri
    • Bisa ditunggangi dan dimanfaatkan pihak lain

Karena itu, pendekatan kini lebih hati-hati, selektif, dan taktis.


Peringatan Keras: “Jangan Ikuti Provokator!”

Ini bagian paling tajam dari pernyataan IB-HRS.

Ia secara eksplisit memperingatkan mahasiswa untuk tidak terjebak oleh:
    • Tukang survei bayaran
    • Mantan narapidana kasus penipuan

Keduanya, menurutnya:
    • Tidak memiliki kredibilitas moral
    • Pernah diuntungkan oleh kekuasaan
    • Kini berbalik arah dengan narasi ekstrem seperti ajakan kudeta
Saya sebut mereka bukan orator, tapi provokator.


Pesannya jelas:
👉 Jangan beri panggung
👉 Jangan jadikan mereka rujukan gerakan
👉 Periksa rekam jejak sebelum mengajak kolaborasi


Gerakan Mahasiswa di Titik Kritis

IB-HRS mengingatkan bahwa gerakan mahasiswa selalu berada di posisi rentan:
    • Mudah diprovokasi
    • Mudah dijadikan alat
    • Bahkan bisa “dikorbankan” demi agenda elite

Karena itu, ia menolak romantisasi “martir gerakan” jika tidak disertai kesadaran politik yang matang.


Solusi: Bangun Gerakan Berbasis Integritas

Sebagai jalan keluar, IB-HRS menawarkan beberapa prinsip:

1. Kemurnian Agenda
Gerakan harus bebas dari kepentingan kelompok sempit.

2. Seleksi Tokoh
Libatkan:
    • Akademisi kredibel
    • Intelektual berintegritas
    • Aktivis dengan rekam jejak jelas

3. Konsolidasi Terbuka
Ia bahkan membuka ruang dialog antara BEM dan FPI:
    • Diskusi lintas organisasi
    • Kolaborasi berbasis isu
    • Tanpa dominasi kepentingan politik praktis

4. Kesadaran Strategis
Gerakan tidak harus selalu di jalan, tapi harus tetap efektif dan berdampak.


Penutup: “Bersihkan Garisnya, Kami Akan Ikut”

Pesan terakhir IB-HRS menjadi penegas:
Jika gerakan mahasiswa bersih, murni, dan jelas arah perjuangannya, kami siap turun bersama.

Ini bukan sekadar dukungan, tetapi juga tantangan:
Apakah gerakan mahasiswa mampu menjaga independensinya di tengah tarik-menarik kepentingan?


(as)
#IBHRS #BEMSI #GerakanMahasiswa #ReformasiHukum #TolakProvokasi #AksiMahasiswa #IndonesiaBergerak #KeadilanUntukAktivis #JagaIntegritas #MahasiswaBersatu