Fatahillah313, Jakarta, 5 Maret 2026 - Suasana hangat penuh semangat perjuangan mewarnai acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Gerakan Muslim Jakarta (GMJ) di kediaman Buya Fikri Bareno, Kamis (5/3/2026).
Acara yang berlangsung di Majelis Tadabbur Al-Qur’an Buya Fikri Bareno, Petamburan, Jakarta Pusat ini dihadiri sejumlah tokoh dan aktivis, termasuk pakar telematika sekaligus tokoh publik Roy Suryo.
Pertemuan yang berlangsung menjelang waktu berbuka ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi Ramadan, tetapi juga forum refleksi perjuangan umat.
Pertemuan yang berlangsung menjelang waktu berbuka ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi Ramadan, tetapi juga forum refleksi perjuangan umat.
GMJ menegaskan kembali tema yang mereka gaungkan tahun ini:
Ramadhan: Bukan Bulan Berleha-leha
“Ramadan Bulan Perjuangan.”
Ramadhan: Bukan Bulan Berleha-leha
Dalam pembukaan acara, Ust. Namruddin (Ketum GMJ) menegaskan bahwa Ramadan harus dimaknai sebagai momentum perjuangan spiritual, sosial, dan politik umat Islam.
Menurutnya, ada kecenderungan sebagian masyarakat memandang Ramadan sebagai bulan istirahat dari aktivitas perjuangan.
Menurutnya, ada kecenderungan sebagian masyarakat memandang Ramadan sebagai bulan istirahat dari aktivitas perjuangan.
Narasi ini dinilai harus diluruskan.
Jangan sampai Ramadhan dianggap bulan leha-leha atau bulan istirahat.
Justru Ramadhan adalah bulan perjuangan,
tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam terjadi pada bulan Ramadan, termasuk berbagai peperangan penting yang menunjukkan bagaimana semangat jihad dan pengorbanan justru meningkat pada bulan suci tersebut.
Dengan semangat itu, GMJ mengajak masyarakat untuk terus menggaungkan pesan bahwa Ramadan adalah waktu untuk memperkuat komitmen terhadap perjuangan umat.
Sejarah GMJ: Dari Gubernur Muslim untuk Jakarta
Ia mengingatkan bahwa banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam terjadi pada bulan Ramadan, termasuk berbagai peperangan penting yang menunjukkan bagaimana semangat jihad dan pengorbanan justru meningkat pada bulan suci tersebut.
Dengan semangat itu, GMJ mengajak masyarakat untuk terus menggaungkan pesan bahwa Ramadan adalah waktu untuk memperkuat komitmen terhadap perjuangan umat.
Sejarah GMJ: Dari Gubernur Muslim untuk Jakarta
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan kembali sejarah berdirinya GMJ.
Organisasi ini awalnya tidak bernama Gerakan Muslim Jakarta, melainkan “Gubernur Muslim untuk Jakarta.”
Gerakan ini lahir dari inisiatif Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah (MTJB) yang dipimpin oleh Habib Rizieq Shihab.
Gerakan ini lahir dari inisiatif Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah (MTJB) yang dipimpin oleh Habib Rizieq Shihab.
Beberapa tokoh ulama turut terlibat dalam gerakan awal tersebut, antara lain:
Gerakan tersebut mulai aktif sekitar tahun 2015, ketika situasi politik Jakarta dinilai membutuhkan mobilisasi umat yang terorganisasi.
Para penggeraknya menilai perjuangan saat itu tidak bisa dilakukan secara sporadis, melainkan harus dikelola secara sistematis.
- Arifin Ilham
- Bachtiar Nasir
- sejumlah ulama dan tokoh dakwah lainnya.
Gerakan tersebut mulai aktif sekitar tahun 2015, ketika situasi politik Jakarta dinilai membutuhkan mobilisasi umat yang terorganisasi.
Para penggeraknya menilai perjuangan saat itu tidak bisa dilakukan secara sporadis, melainkan harus dikelola secara sistematis.
Perjuangan waktu itu memang harus sistematis.Lawannya memiliki sumber daya sangat besar, bahkan pusat kekuatannya dekat dengan kekuasaan,
ungkap Ust Namruddin.
Meski menghadapi tantangan besar, mereka meyakini bahwa kemenangan perjuangan tidak semata ditentukan oleh kekuatan materi, tetapi oleh izin dan pertolongan Allah.
BACA JUGA:
Meski menghadapi tantangan besar, mereka meyakini bahwa kemenangan perjuangan tidak semata ditentukan oleh kekuatan materi, tetapi oleh izin dan pertolongan Allah.
BACA JUGA:
Roy Suryo: Terima Kasih atas Kehangatan Majelis
Dalam sambutannya, Roy Suryo mengungkapkan rasa syukur dapat hadir dalam majelis tersebut.
Ia menyampaikan apresiasi kepada tuan rumah Buya Fikri Bareno yang telah menyediakan tempat untuk kegiatan silaturahmi dan diskusi umat menjelang berbuka puasa.
Alhamdulillah saya bisa sampai di tempat yang sangat membahagiakan ini, berkumpul bersama bapak-bapak dan ibu-ibu majelis sebelum buka puasa,
ujar Roy.
Ia juga sempat mengoreksi secara ringan penyebutan namanya pada materi acara yang mencantumkan gelar “Haji”.
Ia juga sempat mengoreksi secara ringan penyebutan namanya pada materi acara yang mencantumkan gelar “Haji”.
Dengan nada bercanda ia menegaskan bahwa dirinya belum menunaikan ibadah haji, haji kecil sudah.
Kalau disebut Haji nanti ada yang protes.Hajinya tidak ada sertifikatnya,
ujarnya sambil disambut tawa hadirin.
Dari Doa untuk Iran ke Diskusi Geopolitik Dunia
Dari Doa untuk Iran ke Diskusi Geopolitik Dunia
Roy Suryo mengaku datang sedikit terlambat karena sebelumnya menghadiri acara doa bersama di kediaman Amien Rais.
Doa tersebut diselenggarakan sebagai bentuk simpati atas wafatnya pemimpin spiritual Iran, Ali Khamenei.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memiliki dampak yang luas, tidak hanya bagi negara-negara di kawasan tersebut tetapi juga bagi dunia, termasuk Indonesia.
Ancaman Krisis Energi Global
Doa tersebut diselenggarakan sebagai bentuk simpati atas wafatnya pemimpin spiritual Iran, Ali Khamenei.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memiliki dampak yang luas, tidak hanya bagi negara-negara di kawasan tersebut tetapi juga bagi dunia, termasuk Indonesia.
Ancaman Krisis Energi Global
Dalam penjelasannya, Roy menyoroti potensi dampak besar dari konflik geopolitik di kawasan Teluk.
Salah satu risiko yang disebut adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu utama distribusi minyak dunia.
Salah satu risiko yang disebut adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu utama distribusi minyak dunia.
Jika jalur tersebut terganggu, distribusi minyak global bisa mengalami krisis besar.
Indonesia jelas akan terdampak.Salah satunya adalah kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak,
jelas Roy.
Ia mengutip pernyataan pejabat pemerintah bahwa cadangan energi Indonesia memiliki batas waktu tertentu apabila terjadi gangguan distribusi global.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu bersikap bijak dalam menentukan kebijakan luar negeri di tengah dinamika geopolitik yang sensitif.
Seruan Ketegasan Kepemimpinan Nasional
Ia mengutip pernyataan pejabat pemerintah bahwa cadangan energi Indonesia memiliki batas waktu tertentu apabila terjadi gangguan distribusi global.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu bersikap bijak dalam menentukan kebijakan luar negeri di tengah dinamika geopolitik yang sensitif.
Seruan Ketegasan Kepemimpinan Nasional
Roy Suryo juga menyinggung pentingnya ketegasan sikap pemimpin nasional dalam menghadapi dinamika internasional.
Menurutnya, kebijakan luar negeri Indonesia harus tetap berpegang pada prinsip perdamaian, bukan keterlibatan dalam konflik militer.
Ketika menjawab pertanyaan media, ia menegaskan bahwa perjuangan yang perlu dilakukan saat ini adalah mengingatkan para pemimpin Republik.
Menurutnya, kebijakan luar negeri Indonesia harus tetap berpegang pada prinsip perdamaian, bukan keterlibatan dalam konflik militer.
Ketika menjawab pertanyaan media, ia menegaskan bahwa perjuangan yang perlu dilakukan saat ini adalah mengingatkan para pemimpin Republik.
Termasuk mengingatkan Presiden agar mempertimbangkan kembali berbagai keputusan strategis.
Ia menyinggung bahwa sebelumnya Presiden juga telah diingatkan oleh para tokoh senior bangsa, seperti mantan Presiden SBY dan Wakil Presiden Pak JK, agar Indonesia meninjau kembali keikutsertaan dalam BoP, karena langkah tersebut berpotensi menimbulkan persepsi bahwa Indonesia memihak dalam konflik.
Ia menyinggung bahwa sebelumnya Presiden juga telah diingatkan oleh para tokoh senior bangsa, seperti mantan Presiden SBY dan Wakil Presiden Pak JK, agar Indonesia meninjau kembali keikutsertaan dalam BoP, karena langkah tersebut berpotensi menimbulkan persepsi bahwa Indonesia memihak dalam konflik.
Ia menegaskan bahwa tradisi Indonesia selama ini adalah mengirim pasukan perdamaian, bukan pasukan tempur.
Hal tersebut menurutnya perlu dipertahankan sebagai bagian dari identitas diplomasi Indonesia di dunia internasional.
Ramadan dan Spirit Perjuangan Umat
Acara buka puasa bersama ini akhirnya ditutup dengan pesan reflektif bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas dan kesadaran perjuangan umat.
Bagi GMJ, Ramadan adalah waktu yang tepat untuk:
Silaturahmi yang berlangsung di rumah Buya Fikri Bareno tersebut menjadi contoh bagaimana majelis keagamaan dapat menjadi ruang dialog antara ulama, tokoh masyarakat, dan aktivis dalam merespons berbagai persoalan umat dan bangsa.
(as)
Bagi GMJ, Ramadan adalah waktu yang tepat untuk:
- memperkuat ukhuwah Islamiyah
- meningkatkan kepedulian sosial
- membangun kesadaran politik umat
- serta memperjuangkan nilai keadilan dan perdamaian.
Silaturahmi yang berlangsung di rumah Buya Fikri Bareno tersebut menjadi contoh bagaimana majelis keagamaan dapat menjadi ruang dialog antara ulama, tokoh masyarakat, dan aktivis dalam merespons berbagai persoalan umat dan bangsa.
(as)
#BukberGMJ #RamadanBulanPerjuangan #RoySuryo #BuyaFikriBareno #GerakanMuslimJakarta #SilaturahmiRamadan #MajelisTadabburQuran #UmatDanPerjuangan #DiskursusUmat #Ramadan1447H

